Studi Lapangan ( Bagian 5 ) di Istana Tampak Siring

Oleh : Yesaya Nugraha —

Pulau Dewata Bali sangat di kenal dunia akan keindahan alam dan panorama pantai. Selain wisata alam dan pantainya, Bali juga memiliki wisata sejarah yang tidak kalah menariknya. Studi lapangan kami kali ini mengunjungi tempat-tempat bersejarah yang ada di pulau Bali.

Pintu Gerbang Istana Tampak Siring

Istana Kepresidenan Tampak Siring merupakan satu-satunya istana kepresidenan yang dibangun tahun 1957 oleh putra-putri bangsa setelah kemerdekaan Indonesia. Merupakan salah satu diantara enam Istana Kepresidenan yang ada di Indonesia, berada di Desa Tampaksiring, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar. Nama istana ini diambil dari dua kata yang berasal dari bahasa Bali yaitu Tampak yang berarti telapak dan Siring yang berarti miring.

Istana ini berada di dataran tinggi lebih kurang 700 meter dari permukaan laut, berada diatas lahan seluas 19 hektare dengan bangunan  yang dibangun secara menyebar, berlokasi diatas perbukitan menjadikan suhu yang ada di sekitarnya terasa sejuk, ditambah dengan pemandangan yang begitu asri sangat menarik minat banyak pengunjung lokal maupun mancanegara,.

Awal mulanya istana ini dibangun atas dasar keinginan dari Presiden pertama Republik Indonesia Ir. Soekarno, yang menginginkan tempat yang tenang dan bagus untuk beristirahat bagi Presiden dan keluarga serta para tamu-tamu kenegaraan yang datang berkunjung.

Di Istana Tampak Siring ini ada dua gedung utama yaitu Wisma Merdeka yang memiliki luas 1.200 meter persegi dan Wisma Negara seluas 1.476 meter persegi. Dua gedung utama ini dipisahkan oleh celah bukit dan dihubungkan dengan sebuah jembatan sepanjang 40 meter yang diberi nama Jembatan Persahabatan. Nama ini digunakan karena tamu-tamu dari negara sahabat yang datang berkunjung selalu melewati jembatan ini sehingga dinamakan demikian.

Jembatan Persahabatan

Selain kedua gedung diatas, ada juga bangunan lainnya yaitu Wisma Yudhistira, Wisma Bima, Ruang Konferensi dan Balai Wantilan. Yang paling menarik diantara semua gedung tersebut adalah Wisma Merdeka, dikarenakan di sinilah dulunya merupakan bangunan peristirahatan milik Raja Gianyar. Wisma Merdeka merupakan induk dari semua bangunan yang ada di komplek Istana Kepresidenan.

Untuk berkunjung ke Istana ini, pengunjung harus mengajukan surat perijinan minimal satu minggu sebelum kedatangan, karena Istana ini akan ditutup jika ada acara kepresidenan maupun saat ada tamu kenegaraan datang berkunjung.

“Kalau mau datang ke Istana Kepresidenan Tampak Siring harus berpenampilan rapi, pakaian tanpa lengan dan rok mini tidak diijinkan masuk, makanan dan minuman juga tidak diperbolehkan masuk ke lingkungan istana,” ujar Wayan, warga Desa Tampaksiring yang kami jumpai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *