Susahnya Menyentuh Sang Presiden

By : Aurelia Zely — Bagian 1 : Bagian 2 : Bagian 3 :

Senang rasanya hati ini, saat diajak ikut dalam acara bertema Silaturahmi Masyarakat Dayak Nasional dengan Ir H Joko Widodo. Wuih..bakal bertemu Presiden Jokowi. Terbayang di benakku, pria bertubuh kurus, suka mengenakan kemeja berwarna putih, dan suka blusukan ke pelosok Tanah Air itu.

Sabtu 26/1, aku bangun lebih cepat dari biasa. Jam 4 subuh, saat mentari belum terbit di ufuk Timur, aku sudah terjaga. Aku harus menyiapkan makan pagi 3 anjing kesayangan, Chanchan, Hawhaw dan Londy, lebih pagi. Juga menyiapkan sarapan untuk Uncle Mick dan Mami sebelum berangkat. Menu sarapan rutin, mulai dari susu, kopi, jus jeruk murni, telur rebus, dan irisan buah pepaya.

Kulihat Mami buru-buru pergi ke salon Bu Ambon, langganannya. Kata Mami,”Malu ah, nanti ketemu Pak Jokowi, masa’ muka Oyu kucel hehehe…”.

Mami membahasai dirinya Oyu, dari kata Toyu, yang artinya Nenek, dalam bahasa Dayak Bidayuh Muara. Secara dalam silsilah keluarga besar, aku terhitung cucu dari Toyu, dimana aku tinggal beberapa tahun ini. Ibuku, Natalia Suti (almarhumah), dari Dayak muara juga. Sementara ayahku, dari Blitar, Jawa Timur. Jadi aku ini setengah Dayak Jawa.

Aku, Londy, Chanchan, Hawhaw

Baiklah, kulanjutkan rencana kami pergi untuk bertemu Jokowi di Sabtu ceria itu. Berangkat dari rumah pukul 06.00 pagi, puji Tuhan jalanan masih sepi. Kata mami, syukur hari Sabtu nggak berlaku aturan ganjil genap, sehingga mobil Toyota Rush yang dikemudi Mami bisa meluncur dengan mulus, melintasi jalan tol Jagorawi, kemudian tol dalam kota Jakarta.

Hujan gerimis di pagi itu, tak menghalangi laju mobil. Sampai-sampai Uncle Mick memperingatkan Mami, agar nggak terlalu ngebut, karena jalan raya mungkin licin. Uncle Mick berkomunikasi dalam bahasa Inggris, karena beliau berasal dari Negeri paman Trumph itu. Aku sedikit-dikit mengerti, kan sudah belajar bahasa Inggris di sekolah, dilanjutkan kurssus beberapa bulan pula hehehe…

Sampai di halaman parkir gedung Season City, kulihat sudah cukup banyak warga Dayak yang datang. Kutahu itu , dari melihat pakaian yang mereka kenakan. Batik motif Dayak, dan banyak di antara mereka yang mengenakan atribut dan aksesoris Dayak. Uncle dan Mami juga khusus menyewa aksesoris Dayak utnuk kami kenakan hari itu. Khusus untuk Uncle mahkota Dayak lengkap dengan bulu burung Ruai. Juga rompi dari bahan kulit kayu, yang ditempeli bulu-bulu burung Enggang, khas Kalimantan.

Aku tadinya juga mau pakai topi Dayak. Tapi kok setelah dicoba, nggak cocok dengan wajahku. Ya sudah, aku tampil seaadanya, dengan rok bahan rajut bermotif Dayak, dan kalung Dayak. Mami pun begitu, berbalut baju yang mirip-mirip motif Daya, yang dibelinya sehari lalu di pusat batik Indonesia di Thamrin City Mal, Jakarta Pusat.

Bagian 1 : Bagian 2 : Bagian 3 :

Maaf Kursi Ini untuk Pejabat

By : Aurelia Zely — Bagian 1 : Bagian 2 : Bagian 3 :

Mami bilang, ternyata susah banget mencari batik motif Dayak. Jadi oleh penjualnya, diberikan busana yang Mami dan Uncle pakai hari itu. “Lumayan ada motif kijang dan burung, kayaknya sesuailah dengan hutan Kalimantan kan,”kata Mami.

Masuk ke pelataran gedung, Uncle Mick segera menarik perhatian banyak orang.Maklum, ada orang Bule’ pakai baju Dayak. Ganteng bingit hehehe.

Keluar dari lift lantai 4, kami agak kesulitan masuk Grand Ballroom karena tidak punya ID Card.Karena kami belum melihat Pak lawadi, salah satu koordinator dimana Mami mendaftar untuk ikut serta sebagai peserta silaturahmi.

Setelah sejenak menunggu, Mami mendapat sebuah ID Card Peserta, titipan Ibu Mence Balang, seorang wanita Dayak, yang datang dari Kalimantan Tengah untuk menghadiri acara ini. Katanya Ibu Mence ini masuk dalam panitia tim MADN (Masyarakat Adat Dayak Nasional).

Kami pun masuk ke Ballroom, mencari tempat duduk agak ke tengah, di belakang peralatan sound system. Tiba-tiba seorang kenalan Mami  dari FDKJ (Forum Dayak Kalbar Jakarta), mempersilahkan kami duduk lebih ke depan. Tak jauh dari panggung. Tentu saja kami senang menerima tawaran itu. Kapan lagi bisa dapat lebih dekat menatap wajah Pak Jokowi,pikirku.

Belum lama duduk di kursi empuk itu, seorang wanita yang Mami kenal juga, sesama anggota FDKJ, meminta kami pindah. “Maaf ini untuk para pejabat yang diundang. Bapak dan Ibu ada ID Card Undangan? Oh..itu ID cardnya Peserta, silahkan pindah ya ke kursi merah di belakan ya,”kata si panitia.

Mereka meminta kami untuk pindah ke kursi merah di belakan

Uph..kulihat wajah Mami yang agak merah. Mami sedikit berbisik padaku,”Duh..bikin malu aja nih”. Uncle Mick pun sempat protes, karena tadi dipersilahkanoleh panitia yang lain untuk duduk di kursi putih, kenapa tiba-tiba diusir begini.

Yah wes…kita memang bukan orang-orang penting yang diundang. Boleh jadi peserta Silaturahmi bertemu Jokowi saja sudah syukur. Bukan begitu ?

Bagian 1 : Bagian 2 : Bagian 3 :

Menanti Selfie dengan Pak Jokowi

Oleh : Aurelia Zely — Bagian 1 : Bagian 2 : Bagian 3 :

Kami senang bisa dapat tempat duduk tambahan yang disediakan pihak Season City di sayap kanan. Agak terhibur ketika Pak Abdul Karding, Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma’aruf berucap di atas panggung, bahwa semua peserta,( tidak hanya Undnagan dan VIP saja) akan berkesmpatan berselfie-ria dnegan Pak Jokowi. Jadi semua tamu diminta tidak berdesak-desakan.

Namun kenyataan tak sesuai harapan. Pukul 09.30, Pak Jokowi tiba di rungan acara. Sambutan yang sangat meriah dari seluruh masyarakat dayak diiringi musik beserta yelyel dibuat khusus untuk menyambut kedatangan Bapak Jokowi.

Seisi ruangan pun bersorak sorai, termasuk aku yang juga ikut menyambut dengan penuh gembira, karena aku untuk pertama kalinya bisa melihat langsung Bapak Ir.H.Jokowi Dodo. Waahhh….tidak disangka akhirnya aku bisa bertemu dan melihat langsung Pak Jokowi,yah..walaupun dengan jarak yang tidak begitu dekat.

Meski berada dalam satu ruangan, ternyata susah untuk melihat lebih dekat, karena banyaknya orang. Pandanganku agak terhalangi oleh posisi orang-orang yang duduk di samping dan di depan. Bapak Jokowi yang kutunggu-tunggu hanya bisa terlihat jelasnya dari layar yang ada di samping panggung.

Posisi tempat dudukku berada di sayap kanan, membuat aku sulit melihat Pak Jokowi dengan jelas. Jadi aku hanya bisa mencari waktu yang tepat agar bisa melihat lebih dekat sehingga bisa mendapatkan foto dengan jelas. Setelah selesai ses tamu VIP berselfi bersama Pak Jokow, baru beliau turun ke bawah panggung.

Sayang, Pak Jokowi hanya sampai di barisan tamu Undangan yang berada tepat di depan panggung. Di antara kerumunan orang, tampak Pak Jokowi pun sulit untuk bergerak. Kasian juga lihat Pak Jokowi kerepotan begitu  hehhehe.

Sampai akhirnya beliau meninggalkan ruangan pertemuan, pun masih dirangsek oleh warga Dayak yang minta selfie satu demi satu. Wew…. aku masih bertekad untuk mencoba bertemu dari dekat, mumpung Pak Jokowi masih berada di depan ruangan, dan bersalam-salaman dengan seluruh peserta dan undangan. Aku harus manfaatkan waktu ini sebaik mungkin,syukur-syukur bisa foto bareng… 🙂

Aku kejar terus sampai menyelip ke tengah-tengah kerumunan orang-orang yang juga ikut berjuang untuk bisa bersalaman dan berfoto bersama. Di tengah kerumunan aku sangat susah untuk bergerak,hanya bisa mencoba bertahan dari dorongan kerumunan orang. Tas ranselku sampai terjepit talinya tertarik 30cm,beruntungnya tali tasku tidak putus kalau rusak kan gawat!! hehehe… soalnya itu tas minjem dari mami.

Aku mencoba untuk merekam melalui video aja dengan cara mengangkat tangan setinggi mungkin ke arah dimana Pak Jokowi akan melintas. Cuma bisa pasrah aja kerumunan sebanyak itu menghalangi jarak,tidak ada lagi menyisakan kesempatan. Sampai Bapak Jokowi sudah keluar pintu hilang dari pandangan,mau melanjutkan mengejar keluar ruangan, rasanya  pupus harapan lagi untuk kedua kalinya,pintu ruangan ditutup dengan sigap oleh Paspampres, hingga akhirnya kerumunan mereda kami semua kembali ketempat duduk masing-masing.

Akhirnya aku hanya bisa mengecek melalui hasil video rekaman sendiri di Hp,sudah direkam dengan sepandai-pandainya. Alhasilnya,’’Ya Tuhan….. dapat wajah Pak Jokowinya sedikit banget..,taping gak apa-apa deh ,bisa bertemu langsung saja aku sudah sangat bersyukur. Meski  awalnya aku pikir, semudah bayanganku bisa bertemu langsung,bersalaman dan berfoto bersama,kapan lagi kan foto bareng Bapak Presiden. Tapi ternyata oh ternyata tidak semudah itu …walau sekadar menyentuh kemeja putih Pak Jokowi.

Sekian cerita pengalaman usahaku untuk bertemu Jokowi

Terimakasih,semogabisa menginspirasi pembaca sekalian 🙂

Bagian 1 : Bagian 2 : Bagian 3

Meet Mother Nature’s Sister

by Michael Lyons

We have four garden areas that once looked like a desert on the moon but now are lush with plant live. When it comes to that which gets life from soil, mother nature has a helper in my wife, Christina. Everything she touches grows.

George

It is a good thing she has this gift because my green gift is the antithesis. I tested my skills on my very own adopted plant. It didn’t work out so well for George (yes, he had a name). No plant should have to endure what I did to poor George.

Fortunately, Christina accepted him as a foster plant and he made a spectacular recovery. I have decided to stay out of the horticulture business. I am much better with hammers, screw drivers and pliers than with shovels hoses and water.

Demi Bertemu Jokowi

Wakil CDOB Sekayam Raya bersama Alumni UI dan Universitas negeri lainnya, siap untuk Deklarasi For Jokowi pada 12 Januari 2019

By : Christina Lomon Lyons —
Bagian 1 : Bagian 2 : Bagian 3 —

Sosok Jokowi masih menjadi magnet bagi rakyatnya. Bukan sekadar kata orang, atau berita burung, tapi kulihat dengan mata kepalaku sendiri. Pengalaman pertamaku, menyaksikan langsung Jokowi berpidato di atas mimbar, di bawah terik mentari di atas panggung di kuning di plaza tenggara Gelora Bung Karno, 12/1 lalu. Hari itu, digelar Deklarasi Alumni UI For Jokowi-Amin.

Meski bukan alumni UI, aku dan beberapa rekan dari Calon Daerah Otonomi Baru (CDOB) ikut hadir dalam acara itu,  bersama keluarga kecil, mewakili CDOB Sekayam Raya, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, dengan harapan bisa bertatap muka dengan Jokowi.

Demonstrasi Forkonas CDOB Se Indonesia di depan Istana Presiden – foto : detikom

Tak sekadar ingin berfoto bersama sang Presiden, tapi yang lebih utama, kami ingin menyampaikan curahan hati, agar Presiden bermurah hati menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) tentang Detada dan Desertada sebagai bentuk penjabaran UU No 23 tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah. Kedua PP ini akan menjadi dasar dibukanya keran pemekaran wilayah di Indonesia. Maka, berbagai cara kami lakukan, agar bisa bertemu Jokowi.

Demi menarik perhatian pemerintah,khususnya Presiden Jokowi, CDOB Sekayam Raya ikut dalam aksi demonstrasi yang diprakarsai oleh Forum Komunikasi Nasional (Forkonas) CDOB se-Indonesia, di depan Istana Presiden, pada 29 September 2018. Beberapa wakil dari Forkonas, saat itu kemudian dipanggil menghadap Staf Presiden. Namun belum mendapatkan hasil yang signifikan.

Keesokkan harinya, tim Sekayam Raya diterima Adian Napitupulu, Anggota DPR RI dari PDI Perjuangan, di kafe Bang prends, miliknya, di Graha Pena 98, kawasan Kemang Jakarta Selatan. Malam yang pekat tak menghalangi tim KSR berdiskusi dengan Bung Adian yang juga mengundang Benny Ramdhani, anggota DPD RI.

Adian kemudian menghubungi salah satu koleganya yang bertugas sebagai Staf Presiden, Ibu Dany, namanya. Maka keesokan harinya, tim Forkonas pun diterima di kantor Staf Presiden di lingkungan Istana Negara Republik Indonesia. Meski jawaban yang diberikan Ibu Dany dan stafnya, masih belum bisa memastikan kapan tim Forkonas bisa diterima Presiden Jokowi.

Bagian 1 : Bagian 2 : Bagian 3

Rezim Jokowi Anti Pemekaran ?

Tim Forkonas bertemu Adian Napitupulu di Kedai Kopi Bang Prendz di Kemang, Jakarta Selatan.

by : Christina Lomon Lyons —
Bagian 1 : Bagian 2 : Bagian 3 —

Awal Januari 2019, Sekretaris Umum Forkonas, Abdurahman Sang, bersama Wakil Sekretaris Umum Forkonas, Sainal Porota bertandang ke Sekretariat Frokonas di Bambu Wulung, Jakarta Timur. Dari pertemuan singkat itu, disepakati untuk kembali menemui Adian Naputupulu, sebagai salah satu Tim Kampanye Nasional Jokowi

Puji Tuhan, Bung Adian sangat antusias menerima tim Forkonas. Adian yang menjadi caleg Dapil V Jawa Barat, itu berjanji akan menyampaikan amanat Forkonas pada presiden Jokowi.

“Walau sebenarnya ini bukan wilayah saya sekarang,”ujar Adian, anggota Komisi VII DPR RI yang membidangi Energi Sumber Daya Mineral, Riset & Teknologi, dan Lingkungan Hidup. Meski ia sempat bertugas di Komisi II  yang menangani bidang Dalam Negeri, Sekretariat Negara dan Pemilu.Usai menyimpan harap pada sang Wakil Rakyat ini, tim Sekayam Raya terus bergerilya, demi tercapainya cita-cita menjadi DOB. Di antaranya hadir dalam Deklarasi Alumni UI For Jokowi itu. Fajar Soeharto, Ketua Panitia acara, menyambut baik dukungan wakil CDOB Sekayam Raya dan CDOB Manokwari, Papua yang hadir meramaikan acara itu. Fajar menyatakan akan membantu untuk mendukung program yang disampaikan perwakilan CDOB, agar PP Detada dan Desertada ini bisa  ditandatangani Presiden, sebelum Pemilihan Presiden 2019, sebagai langkah strategis bagi elektibilitas Jokowi.

Mengapa sebelum Pilpres? Tentu agar isu ini tidak digoreng pihak oposisi, bahwa rezim Jokowi anti pemekaran, mengingat 300 lebih daerah yang saat ini tercatat di Kemendagri, mengusulkan pemekaran. Angka yang cukup signifikan untuk menyumbang suara.

Bagian 1 : Bagian 2 : Bagian 3

Detada & Desertada yang Didamba

Oleh : Christina Lomon Lyons
Bagian 1 : Bagian2 : Bagian 3

Sudah lebih dari 2 tahun, draft 2 PP ini ada di meja Ketua Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah (DPOD). Dan pemerintah bisa dianggap melanggar amanat Undang-Undang, karena setelah disyahkan UU No 23 tahun 2014, selambatnya 2 tahun, PP tentang aturan pelaksanaan harus diterbitkan.

Dengan diterbitkannya PP Detada dan Desertada, tidak otomatis CDOB menjadi mekar atau disahkan semua. Karena CDOB yang bisa dimekarkan menjadi DOB periapan, tentu harus memenuhi yag dipersyaratkan PP tersebut. Dan ini menjadi domaninya Pemerintah melalui Kemendagri Ditjen Otda.

Pemerintah bisa memutuskan pertimbangan kemampuan keuangan negara, berapa CDOB yang bisa disahkan, berdasarkan skala prioritas, seperti  wilayah perbatasan dengan negara lain dan pulau terluar NKRI. Juga untuk wilayah yang rentang kendalinya terlalu jauh dari pusat pelayan dan pengawasan pemerintah kepada rakyatnya.

Ingin kusampaikan secara langsung, semua amanat di atas, jika suatu saat bisa bertemu Jokowi. Dan kesempatan itu kudapatkan, setelah susah-payah berdesak-desakan dengan peserta lain. Meski hanya satu menit. Ketika mobil Toyota Innova yang ditumpangi Presiden, berhenti untuk memberikan kesempatan bagi rakyat untuk bertatap muka dengannya.

Jendela mobil terbuka. Kuihat Jokowi duduk bersebalahan dengan Juru Bicara Presiden, Johan Budi. Presiden mengulurkan tangannya, untuk kusalami. Mmh…terasa bermipi aku bisa menggenggam tangan presidenku. Secepat kilat kusampaikan isi hatiku kepada beliau, tentang betapa pentingnya pemekaran bagi wilayah di perbatasan.

Kulihat wajah Jokowi yang tersenyum, mendengar celotehku dari luar jendela mobil. Sayang, aku tak sempat berselfie dengan pak Jokowi. Karena Vivi, keponakanku yang siap dengan handphone di sampingku, keburu didorong paspampres. Semoga Pak Jokowi ingat pesanku di hari Sabtu itu.

Entah ada kaitannya atau tidak, dua hari kemudian, aku membaca di group Dayak Lovers di Whatsaap, undangan Silaturahmi Masyarakat Dayak dengan Presiden Jokowi, pada 26 Januari 2019. Ge er deh gue…

Bagian 1 : Bagian2 : Bagian 3

Bahagianya Warga Dayak Bersua Jokowi

By : Christina Lomon Lyons –

Bagian 1 : Bagian 2 : Bagian 3 : Bagian 4

Matahari belum lama terbit. Warga Dayak sudah berdatangan ke Season City Mal, kawasan Jembatan Besi, Tambora, Jakarta Barat, Sabtu 26/1.Tujuannya satu, demi bertemu Jokowi, Presiden RI.

Tak hanya warga Dayak perantau di Jakarta yang datang menghadiri undangan acara ‘Silaturahmi Nasional Masyarakat Dayak bersama Ir H Joko Widodo’ di Grand Ballroom, Season City Mal itu. Tetapi juga warga Dayak dari pedalaman Kalimantan. Mereka adalah para tokoh Adat Dayak, yang tergabung dalam Majelis Adat Dayak Nasional, yang dipimpin Drs. Cornelis MH, Gubernur Kalimantan Barat 2008-2018.

Sambil menanti kedatangan Sang Presiden yang kembali mencalonkan diri dalam Pilpres April 2019, dengan nomor urut 01 itu, para peserta silaturahmi diajak panitia berlatih mengucapkan beragam yel-yel.

“Ayo para warga Dayak yang terkenal hebat, pejuang, menyambut Jokowi dengan semangat,” ujar Abdul Karding, Wakil Ketua Tim Kampaye Nasional (TKN) Joowi-Ma’aruf.

“Siapa Jokowi?”tanya Abdul Karding di atas panggung.
“Kita!”jawab peserta membahana ruangan.
“Siapa Jokowi?”tanya Karding lagi.
Peserta kembali menjawab dengan suara lebih keras,”KIta lagi!”

Ir Abdul Karding, adalah anggota Dewan Perwakilan Rakyat RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa. Pria kelahiran Donggala, Sulawesi Tengah pada tahun 1973 ini didampingi Dr Carolin Margret Natasha, Bupati Kabupaten Landak, Kalimantan Barat, memandu warga Dayak menyambut Calon Presiden nomor urut 01.

“Jokowi- Ma’aruf! ,” Carolin berteriak lantang
Warga Dayak yanga antusias memenuhi ruangan menjawab,”Menang!”
“Jokowi – Ma’aruf!” teriak Carolin lagi.
Warga pun tegas menjawab, “Amin!”

Ayo Kita Pilih Jokowi


Abdul Karding menyatakan, Jokowi sampai menunda agenda lima acara lain, untuk segera bertemu dengan masyarakat Dayak, Sabtu 26 Januari itu. Dan kedatangan Jokowi tidak sia-sia. Seluruh bangku di Grand Ballroom itu terisi, bahkan banyak peserta yang harus berdiri. Warga pun bergembira, ikut berdendang diiringi lagu berjudul Ayo Kita Pilih Jokowi, yang dilantunkan vokalis alumni Indonesia Idol, Marion Jola.

Bagian 1 : Bagian 2 : Bagian 3 : Bagian 4

Burung-Burung Pun Berkicau : “Jokowi Jokowi”

Oleh: Christina Lomon Lyons –

Bagian 1 : Bagian 2Bagian 3 : Bagian 4

Antusias warga Dayak menyambut kedatangan Jokowi di Grang Ballroom Season City Mal, Jakarta Barat, 26/1 bukan sandiwara. Buka sekadar pura-pura. Yakobus Kumis, Sekretaris Jenderal MADN (Majelis Adat Dayak Nasional), bahkan menegaskan, kicauan burung-burung pun seperti berbunyi,”Jokowi Jokowi”.

“Seperti hari ini, warga Dayak dari Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Utara, bahkan Dayak dari Sabah dan Serawak datang berkumpul untuk bisa bersilaturahmi dengan Pak Jokowi,”ujar Yakobus Kumis.

Tarian adat Dayak kemudian disuguhkan sebuah Sanggar Seni Dayak yang dipimpin Jeffry, pemuda asal Kalimantan Timur, menyambut Joko Widodo di pintu masuk Grand Ballroom, Sabtu pagi itu. Jokowi kemudian memasuki ruangan didampingi Pramono Anung, Sekretaris Kabinet Indonesia, Cornelis, Presiden MADN, dan Carolin M Natasha, Bupati Kabupaten Landak. Sebelum naik ke panggung, Jokowi langsung meladeni permintaan warga yang ingin berfoto dengannya.

Acara kemudian dimulai dengan pemutaran video yang menayangkan foto-foto dokumentasi semua Presiden RI, Soekarno,Soeharto, Habibi, Gus Dur, Megawati, Susilo Bambang Yudhoyono, hingga Joko Widodo lengkap dengan keluarga masing-masing. Diakahiri dengan sebuah slogan, “Kesuksesan memimpin negara dimulai dari memimpin keluarga”.

Dalam pidatonya, Jokowi bercerita tentang pengalamannya berbincang dengan Ibu Negara Afghanistan, Rula Gani, di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat.

“Ibu Rula Gani bertanya, bagaimana cara Indonesia mempersatukan bangsa yang memiliki banyak suku bangsa dan agama yang berbeda? Ada 714 suku di Indonesia, 17 ribu pulau. Dayak salah satu suku terbesar di Indonesia. Sementara di Afganistan ada 7 suku,” ujar Jokowi.

Meski di Afganistan hanya ada 7 suku, yaitu Pashtun, Tajik, Hazara, Uzbek, Turkmen, Kyrgyz dan Kuchi, namun, begitu dua suku berkonflik, Afganistan yang 40 tahun lalu merupakan negara yang aman tenteram, berubah menjadi negeri yang terus berkecamuk perang saudara, tak kunjung selesai hingga kini.

“Saat ke kabul tiap hari ada roket dan bom. Karena konflik peradaban jadi mundur,”ujar Jokowi.

Presiden ke 7 Indonesia ini menegaskan bangsa Indonesia bisa bersatu karena kita memiliki ideologi besar yaitu Pancasila.

“Maka marilah kita jaga Persatuan, Kerukunan, dan Persaudaraan, sebagai aset besar bangsa Indonesia. Jangan sampai perbedaan pilihan dalam kancah politik, membuat kita berselisih. Kita harus semakin matang dalam berpolitik,”tegas Jokowi.

Bagian 1 : Bagian 2Bagian 3 : Bagian 4

Jangan Rusak Negeri Ini dengan Jari Jemarimu

By : Christina Lomon Lyons –

Bagian 1: Bagian 2Bagian 3 : Bagian 4

Ir.H.Muhammad Lukman Edy MSi, Menteri Negara Pembangunan Daerah tertinggal RI pada era Presiden SBY, juga menjadi pemandu acara Silaturahmi Masyarakat Dayak dengan Joko Widodo, 26/1. Selain itu, ada pula Said, tokoh anak muda Betawi, yang belum lama ikut bergabung mendukung Capres nomor urut 01.

Dengan dialek Betawi yang kental, Said memimpin doa diawalinya kampanye Capres Jokowi di depan masyarakat Dayak di Grand Ballroom, Season City Mal, Jakarta Barat. Sesekali Said mencoba mengucapkan salam dalam Bahasa Dayak Kenayant.

“Ahe kabar ? “kata Said.

Abdul Karding pun tak kalah mencoba membaca moto MADN, Adil Katalino, Bacuramin Ka Saruga, Basengat Ka Jubata. Dan dijawab warga Dayak dengan penuh semangat,” Arus arus arus!”

“Said ini sebelumnya adalah pendukung dari sebelah. Setelah diyakini bahwa berita miring tentang Jokowi semua hoax, akhirnya Said kembali ke jalan yang benar, hahaha…,”tutur Abdul Karding seraya te tawa lebar, saat memperkenalkan sosok Said.

Abdul Karding mengatakan, saat ini ada 9 juta orang, warga Indonesia yang terpapar info bohong.

“Berita hoax itu di antaranya menyebut Jokowo itu PKI, Jokowi tekah mengkriminalisasi ulama, Jokowi itu hukum tajam ke bawah tapi tumpul ke atas. Termasuk yang bilang Indonesia akan hancur / punah. Itu bohong semua. ,”ucap Abdul Karding.     Wakil Ketua TKN Jokowi Maaruf ini kemudian menyebut keberhasilan Jokowi selama 4 tahun menjadi presiden. Di antaranya kebijakan Tenaga Kerja Asing, justru sangat ketat sejak era Jokowi.

“Masak rebut Freeport disebut antek asing. Rebut Blok Mahakam disebut antek asing. Seluruh aset-aset negara dikuasai oleh negara pada era Jokowi,”ujar Karding.

Jokowi yang Merakyat

Pria kelahiran Donggala Sulawesi Tengah itu menegaskan, Jokowi asal dari rakyat, selalu merakyat, dan berada di tengah-tengah rakyat. Indonesia bangga pertama kali anggaran kesehatan 5 % dari APBN, sesuai Amanat UU No. 36/2006. Indonesia bangga bahwa Bahan Bakar Minyak dari Aceh hingga Papua satu harga. Indonesia bangga pertama dalam sejarah, angka kemiskinan terendah 9,82 %.

“Dan berbagai berita bohong yang dimainkan pihak sebelah menjadi tantangan kita. Maka jangan rusak negara ini dengan jari-jemarimu kawan,” Karding berucap lantang.

Bagian 1: Bagian 2Bagian 3 : Bagian 4

Top