Bangga dan Kecewa di Tumbang Anoi

Bagian 1 : 2 : 3 : 4

Palangka Raya kian popular saja di tanah air Indonesia. Maklum, kota ini adalah calon kuat Ibu Kota Negara (IKN) yang baru. Saat Jakarta akan menjadi sang Mantan terindah, nantinya.

Turun dari pesawat Lyon Air yang membawa kami dari Jakarta, Bandar udara internasional Tjilik Riwut tampak megah. Nama orang Dayak, pahlawan bangsa yang dipatrikan sebagai nama Bandar udara di Kalteng ini, sungguh membuat bangga. Apalagi jika mengingat, Bandar udara di tanah kelahiranku, Kalimantan Barat saja, namanya masih Supadio. Sempat terdengar kabar akan berganti nama menjadi bandar udara Oevang Uray, gubernur Dayak pertama di Kalbar, tapi belum juga terujud.

Suasana di bandara Tjilik Riwut
Michael Lyons dan istri, berpose sejenak di pintu keluar bandara Tjilik Riwut

Namun bandara Tjilik Riwut yang baru direnovasi megah itu, masih terasa ‘dingin’. Tak terdengar lagu daerah local menyambut tamu yang datang, seperti jika kita tiba di bandara di Balikpapan atau Pontianak, Kalbar. Hanya ada baliho bertuliskan Welcome to Tambun Bungai Palangka Raya Kota Cantik.

Ya kota Palangka Raya memang cantik, bersih dan tenang. Ketika kami beranjak pergi menuju Tumbang Anoi, melintasi jembatan gagah yang membentang di atas sungai Kahayan yang berair keruh. Tak beda dengan Sungai Sekayam di Kabupaten Sanggau, kampong halamanku.

Patung Bung Karno menunjuk Kalteng sebagai Ibu Kota Negara RI
Jembatan Kahayan kebanggan Palangka Raya

“Sejak banyak tambang emas dan kelapa sawit, air sungai Kahayan tak lagi jernih seperti 10 tahun lalu,”ujar Oskar, sahabat Dayakku di Kalteng yang membawa kami ke Tumbang Anoi Minggu 21 Juli 2019.

Kami sempat dijamu di pusat kuliner Kampung Lauk di tepi Sungai Kahayan ini. Hidangan ikan-ikan khas Borneo seperti Lais, Baong dan Patin yang segarnya beda dengan ikan Patin di Jakarta, sungguh menggugah selera. Usai makan siang itu, perjalanan ke Tumbang Anoi dimulai.

Bersama Madam Karlina Damirie, Honorary Consulate of Monaco
Sungai Kahayan yang airnya tak lagi bening

Perjalanan Palangka Raya – Kuala Kurun – Tumbang Anoi mengingatkanku saat pulang kampung dari tanah rantau di Jakarta ke Balai Karangan, Kabupaten Sanggau, lebih dari 3 dekade lalu. Terutama jalan antara Kuala Kurun, Kabupaten Gunung Mas dengan Tumbang Anoi. Banyak jalan yang belum diaspal.

“Untung tidak musim hujan, jadi jalan masih bias dilintasi mobil,”ujar Oskar.

Oskar dari UPR dan putranya Alexandro Barrent

“Ya bayangkan saja, jika saat ini kondisi jalan masih seperti itu. Bagaimana dengan 125 tahun lalu, saat Damang Batu mengundang tokoh-tokoh Dayak memenuhi undangan mangkok merah bertemu di Tumbang Anoi tahun 1894. Mereka semua berjalan kaki. Dulu di Tumbang Anoi juga belum ada rumah. Jadi Damang Batu dan kawan-kawan di Tumbang Anoi itu benar-benar tidur beratapkan langit dan berselimutkan rimba belantara,”ujar DR Andrie Elia Embang, Ketua Harian Dewan Adat Dayak Kalteng di ujung telepon. <<

Bagian 1 : 2 : 3 : 4

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *