Loading...
English EN Indonesian ID
Borneo Bliss

Curahan Hatiku Bertemu di Facebook, Setelah 15 Tahun Ditinggal Ayah (2)

Ayah Pergi, Ketika Aku Kelas 2 SD

Oleh : Aurelia Zely/CLL

Ayah juga tidak mau kalah, ia giat  bekerja dari pagi di pabrik kayu dan pulang sampai sore, bahkan kadang malam. Pulangnya juga selalu membelikan sesuatu untuk di rumah. Aku  selalu senang, jika Ayah sudah pulang kerja. Apalagi yang namanya anak kecil, paling senang dibawakan sesuatu.

Jujur dulu, aku kecilnya adalah sosok anak yang nakal dan suka kelayapan sama teman-teman tanpa ijin dulu. Tak heran halitu yang membuat Ibu dan Ayah suka kesal. Sungguh masa bahagia, masa nakalnya anak-anak.

Hingga suatu hari,  waktu aku kelas 2 SD a. Datang ke rumah kami,  seseorang yang wajahnya mirip dengan ayahku. Ternyata dia adalah abang kandung ayah, Pakde yang datang jauh-jauh dari Jawa.  Katanya ingin menjenguk sebentar dan mengajak ayahku untuk bekerja di Malaysia.

Pakde waktu itu hanya menginap semalam di rumah. Keesokan hariny, a pagi-pagi kami sudah berkumpul bersama di ruang tengah rumah untuk mengobrol. Aku ingat waktu itu, Ibu membuatkan teh, tapi Pakde menolak untuk minum sebab beliau bilang itu racun. Saat itu, aku cuma bisa diam karena bingung sendiri.

Tidak lama kemudian Ibu pergi ke dapur untuk siap memasak. Saya yang masih berumur 6 tahun kemudian main sendiri, karena adikku Sindy  masih balita, usia 2 tahun saat itu. Sementara ayah mengobrol dengan Pakde. Aku dulu selalu berpikir, dari pada main sama anak bayi, mendingan main sendiri, karena sudah kebiasaan bermain sama teman seumuran.

Sedang asyik main, tiba-tiba ada bus berhenti tepat di depan rumah. Rupanya Ayah  yang memberhentikan bus itu , Ayah dan Pakde mengambil tas yang berisi barang barang ,mungkin pakaian.

Ayah kemudian menghampiriku, kemudian memelukku erat. Kemudian ia pergi mengikuti Pakde dan naik bus tanpa pamit dengan ibu ku di dapur.

Aku yang bingung ,  langsung kedapur menghampiri Ibu dan tanya Ayah  mau kemana. Ibu hanya diam dengan wajah murung dan tidak berbicara sepatah katapun. Aku pikir Ayah  hanya pergi sebentar,tapi ternyata bertahun tahun tiada kabar dan tidak pulang ke rumah kami di Kuala Dua lagi.

 (bersambung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Editor's Choice