Loading...
English EN Indonesian ID
Borneo Bliss

Curahan Hatiku Bertemu di Facebook, Setelah 15 Tahun Ditinggal Ayah (3)

Ibu Menikah Lagi, Lagi-lagi Lebih Muda

Ini Mariana Shindy, adikku

 

Mulai dari saat itulah, Ibuku bekerja banting tulang sendiri, untuk menghidupi aku dan adikku. Kadang kami berdua sering ditinggal di rumah, dari pagi sampai sore, sampai Ibu pulang kerja. Senangnya jika Ibu bisa pulang siang.
Melihat ibu sendirian banting tulang tanpa Ayah, aku sering kasihan. Aku sering berpikir dan bertanya pada diri sendiri ,kapan Ayah pulang dan kenapa dia pergi lama sekali. Sementara Ibu sama sekali tidak pernah membahas soal itu.
Seiring berjalannya waktu, lama-lama Ibu kerjanya makin jauh. Adikku sering diajak pergi kerja, sedangkan aku sering dititipkan pada Nenek. Sejak itu aku sering bareng nenek dan kadang suka buat kesal Nenek juga. Aku masih nakal, kalau main lama-lama nggak pulang-pulang. Apalagi aku sering ditinggal sama Ibu yang kerja berhari hari nggak pulang. Nenek pun sering kesal pada Ibuku.
Hingga akhirnya Ibuku bertemu seorang pemuda. Itu setelah setahun Ayahku pergi tak kembali. Tidak kuat sendiri Ibu pun memutuskan untuk menikah lagi dengan seorang pemuda Dayak dari desa Lape, dekat kota Sanggau.
Meski masih bocah, aku pun mengerti, untuk apa menunggu Ayah yang tak juga berkirim kabar. Ibu pun menikah lagi dengan pak Atot, kembali kerumah dan memulai hidup baru. Lagi-lagi suami baru ini, lebih muda dari ibuku. Kharisma Ibuku memang luar biasa. Perempuan Dayak yang cantik. Sayang aku tak punya foto beliau.
Tidak gampang untuk menyesuaikan diri dengan Ayah baru itu. Nggak tahu kenapa aku sepertinya sedikit-sedikit suka kesal pada Ayah penerus ini. Padahal beliau, Pak Atot, demikian kusapa, sosok yang baik ,bertanggung jawab dan jauh lebih sabar dibandingkan dengan ayah kandungku sendiri.
Meski usianya lebih muda juga dari Ibuku, Pak Atot juga pekerja keras. Segala sesuatu yang kurang bagus di rumah, langsung diperbaiki dan dikerjakan.
Kadang kalau liburan sekolah, aku diajak main ke kampung Pak Atot. Keluarga di sana juga baik-baik dan menerima dengan senang hati. Berhubung masih sekolah, aku jadi jarang diajak kemana mana dan lebih sering tinggal dengan Nenek dikampung.
Bahkan ketika Ibu mengandung lagi pun aku tidak tahu. Meski mengandung, Ibu tidak ada malas malasnya sama sekal. Dilarang bekerja keras oleh Pak Atot dan Nenek, tetap saja Ibu rajin pergi ke hutan sendirian berladang dan mencari sayuran. Biasanya, Ibu pergi ke hutan di Kuala Dua selalu bersama-sama dengan pak Atot. (Bersambung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Editor's Choice