Loading...
English EN Indonesian ID
Borneo Bliss

DAYAK, AIR, HEWAN & PEPOHONAN

Oleh : Julius Boy Bidayuh —

Air, Hewan dan pepohonan adalah tiga elemen penting bagi orang Dayak.  Bagi orang Dayak, elemen dari alam semesta ini, tak ubahnya nyawa yang patut dihargai dan diperlakukan sebagaimana layaknya manusia.

Julius Boy Bidayuh, reporter Dayakdreams.com, berbagi pengalamannya ketika menjadi juru kamera di stasiun TVRI Kalimantan Barat. Satu di antara banyak pengalamannya, ketika ia bertemu suku Dayak di Ensaid Panjang, Kecamatan Kelam Permai, Kabupaten Sintang.

“Bekana, Syair Bijak untuk Alam”, demikian judul liputan Julius yang kemudian mendapat penghargaan dari Stasiun TVRI Pusat.

Seni Bekana merupakan tradisi tua yang diturunkan oleh nenek moyang suku Dayak, pada sub suku Dayak di desa Ensaid Panjang ini. Seni Bekana dengan lantunan lagu khas orang Dayak dengan diiringi gitar sape, warga mempersembahkan pertunjukan layaknya sebuah perjamuan, lengkap dengan nasi lauk sayur lemang dan tuak.

“Inilah desa kami, dimana masyarakat hidup berdampingan, tidak hanya dengan sesama manusia melainkan juga dengan alam yang memberi kami penghidupan, rumah panjang membentang bertiangkan tongkat bumi, mensyukuri semua yang didapatkan dengan memuja Engkau Tuhan sang pencipta alam semesta,” tetua adat desa Ensaid melantun dengan merdu.

Julius bertemu jurnalis dari Jerman, saat liputan di belantara SintangSetiap bait dari seni bekana memiliki makna filosofis kehidupan, baik nasihat bijak maupun sindiran menurut acara dan kepentingannya.

Kesederhanaan, rasa syukur yang tinggi dan kesejahteraan bersama seolah melekat pada pandangan hidup masyarakat suku dayak di desa Ensaid Panjang ini. Memahami keberadaan mereka sebagai manusia, sebagai bagian dari alam dimana perlunya saling menjaga dan memelihara untuk hidup yang sejahtera.

“Kami bekerja dan memperoleh hasil bumi dengan menjaga adat istiadat, kami menjaga setiap tutur kata dalam berbicara, kami memperoleh rejeki dari berladang menanam padi dan lainnya dengan tetap menjaga hutan di sekeliling kami”.

Seperti halnya ketika hendak mempergunakan bahan alam untuk kepentingan bersama, tradisi ritual dilakukan untuk meminta ijin dan menghormati kepada sang pemilik alam.

Dalam penggunaan bahan hutan baik untuk membangun rumah sekalipun, sesuai dengan tradisi memanfaatkan, merawat dan menanamnya kembali.

Berkumpul mengelilingi api unggun dimalam hari kerap mereka lakukan, sekedar untuk membicarakan permasalahan yang dihadapi sehari hari maupun berbagai hal yang menyangkut sosial budaya.

“Kalau kita mengingat siapa jati diri kita, kita hanyalah manusia yang hidup sementara, Kita harus memelihara alam, karena dari sanalah kita memperoleh semua kebutuhan kita”.

Bagi penduduk setempat, alam bukanlah sekadar pepohonan, air dan hewan, melainkan adalah nyawa yang patut untuk dihargai dan diperlakukan sebagaimana layaknya manusia.

“Karena alam bukan sekadar yang terlihat. Mereka bernyawa, memiliki rasa sakit

Layaknya manusia yang butuh diperhatikan dan dicintai”.

Julius bertemu jurnalis dari Jerman, saat liputan di belantara Sintang
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Editor's Choice