Ibu Kota yang Akrab dengan Bahasa Dayak

Notes from Central Dayak Land — Bagian 1 : 2 : 3

Patung dua pemuda gagah berpakaian adat Dayak, Tambun dan Bungai juga berdiri gagah di kota Palangka Raya.

“Konon Tambun dan Bungai ini aslinya Dayak dari Kalimantan Barat, yang merantau hingga ke Kalimantan Tengah ini,”ujar Oskar saat membawa kami ke rumah Betang Pakat di Palangka Raya.

Tambun dan Bungai adalah tokoh legenda suku Dayak Ot Danum yang tinggal di tengah Borneo. Situs Tambun dan Bungai  berada di desa Tumbang Pajangei, Kecamatan Tewah, Kabupaten Gunung Mas. Situs-situs pemukiman mereka berjarak sekitar 9 km dari kota Kuala Kurun, ibu kota kabupaten Gunung Mas. Situs ini menyimpan berbagai bentuk peniggalan sejarah, antara lain berupa patung Tambun Bungai, kumpulan Penyang Pusaka, pasah Patahu Tambu Bungai, situs Batu Bulan, dan Sandung Tamanggung Sempung. Nama Tambun dan Bungai diabadikan menjadi julukan provisi Kalimantan Tengah.

Sandung (rumah tulang) hampir ada di setiap kecamatan. Seperti di Tumbang Anoi, berdiri tegak di depan rumah Betang, Sandung Damang Batu, tokoh Dayak sakti yang memimpin Perdamaian suku-suku Dayak se-Borneo pada tahun 1894.

Itulah Bumi Tambun Bungai yang mmembuat bangga orang Dayak.Catatan keperkasaan Dayak di masa lalu, tetap mereka jaga, dan dirawat keberadaannya. Termasuk pula bahasa Dayak Ngaju, yang seakan menjadi bahasa pemersatu orang Dayak Tengah.

Jika nama Tambun Bungai dibadaikan menjadi nama perguruan tinggi di Kalteg, maka nama-nama hotel dan penginapan di Palangka Raya pun banyak yang memakai istilah Dayak. Seperti hotel bintang empat bernuansa Dayak Kalteng,  Bahalap namanya, yang berarti bagus atau baik. Atau Hotel Dandang Tinggang di jalan Yos Sudarso, dan Hotel Isen Mulang.  Ada pula hotel melati Rampang, milik Siboth di jalan Nias, kawasan kota tua Pahandut.

Tak hanya bahasa Dayak yang akrab digunakan sebagai nama hotel dan perguruan tinggi, makanan khas Dayak pun bisa dicicip di Palangka Raya, bahkan rumah-rumah makan di sepanjang jalan menuju Kabupaten Gunung Mas.

“Makanan khas Dayak itu komplit rasanya. Mulai dari Asam, pedas, manis bahkan sedikit pahit pun ada,”ujar Oskar yang sempat membawa kami menikmati makan siang di sebuah rumah makan khas Kalimantan di Kuala Kurun, bersama rombongan Madam Karlina Damirie, Honorary Conculate of Monaco yang khusus datang melihat acara Napak Tilas Perdamaian di Tumbang Anoi, 22 -23 Juli 2019.

Ada Sup Terung Asam dengan Ikan Baong, ada sayur umbut rotan yang rada pahit, Tumis atau Rebus Rebung muda, dan sambal yang rasanya perpadduan antara pedas dan sedikit manis.

Makanan khas Dayak ini, memang lebih dominan dengan ikan sungai. Berbeda dengan di Kalimantan Barat, makanan khas Dayak kerap diidentikkan dengan menu daging Babi.

Menu Dayak di Palangka Raya, mirip dengan menu Kawanua atau Manado, yang dominan dengan ikan. Namun hidang Dyak lebih simpel, tidak banyak dengan olahan rempah-rempah.

“ini sayur daun pare, rasanya segar. Kuahnya hanya pakai bawang merah bawang putih saja. Sedang kuah sayur rebung dan buah keladi untuk dituangkan pada ikan Baong ini, tampak kental, padahal tanpa santan kelapa sama sekali,”ujar seorang pelayan di Restoran Samba, di Palangka Raya.  Maka lidah kami pun dimanjakan aneka makanan asli tanah Dayak Tengah. <<

Bagian 1 : 2 : 3

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *