Kalteng Masih Ibukota Paru-Paru Dunia

Bagian :  >1  >2  >3

Prof. Dr. Ir Yetrie Ludang MP dari Universitas Palangka Raya dalam makalah yang menjadi bahan dalam seminar Forum Intelektual Dayak Nasional , 23 Agustus 2019 di Balai Komando, Komplek Militer Cijantung, Jakarta Timur mengungkap, bahwa Pemindahan Ibukota ke Kalimantan didukung kualitas lingkungan yang secara alamiah lebih baik dibanding Jakarta. Pulau mana di Indonesia, yang secara alamiah menyerap karbon dioksida secara maksimal, dan karenanya lebih sehat dari lainnya.

Prof. Dr. Ir Yetrie Ludang MP
Thanks to hard work and dedication, this group made the Forum Intelektual Dayak Nasional 2019 Seminar a tremendous success.

“Walau semula tentu kami berharap pilihan ibukota ke Palangka Raya. Karena pemindahan Ibukota ke Kalimantan, berarti didukung potensi dampak sosial dan lingkungan yang secara alamiah lebih kecil dibanding Jakarta. Walau tidak di Kalteng, namun Ibukota negara yang baru tetap diharapkan menjalankan prinsip Filosofi “Huma Betang”.  Yaitu Rumah Besar yang dihuni banyak orang, dengan beragam agama dan kepercayaan tetapi tetap rukun nan damai,” ujar Prof Yetrie.

The new capital of Indonesia is missing out on it’s most beautiful province.

Masyarakat Dayak berharap, pemerintah tetap bersinergi membangun bersama dan terbuka dengan tetap mempertahankan identitas “ke-dayak-an” dan filosofi “huma betang”. Juga diharapkan peningkatan kesejahteraan masyarakat Dayak tanpa benturan dengan lingkungan dan nilai-nilai filosofi senjata “sipet”.Sipet atau sumpit, adalah simbol kekuatan masyarakat Dayak untuk mencapai target atau sasaran yang relatif jauh, tanpa merusak ‘lingkungan’.Tidak merusak lingkungan di sini bermakna membangun masyarakat dengan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan kebenaran.

Tak lupa pula, tetap melestarikan lingkungan “hijau” dengan tetap menjaga nilai-nilai kearifan lokal sebagai bagian dari khasanah budaya Nusantara yang “mendunia”.

In Palangkaraya, the the statue of Sukarno designates Central Kalimantan as the Republic of Indonesia’s Capital City 🙂

Selain itu, memperkuat sumberdaya masyarakat dayak yang berwawasan luas dengan tetap menjaga nilai-nilai ke-lokal-an. Juga memperkokoh persatuan dalam bingkai NKRI dengan penguatan kemampuan dan keterampilan yang memiliki daya saing yang kompetitif.

Meski tak menjadi Ibukota Negara baru, Kalteng tak perlu berkecil hati. Karena Kalimantan Tengah adalah “Heart of Borneo” (Paru-paru dunia dan ibu Kota Paru-paru Dunia). Dan pembangunan Indonesia tak lagi dengan mindset “Java centris”, tapi  Indonesia sentris.

Between Palangkaraya and Tumbang Anoi is the city of Kuala Kurun, where this moument stands.

Seperti dikatakan Presiden Komite Perdamaian Dunia, Djuyoto Suntani,” Prov. Kalteng dijadikan Ibukota paru-paru dunia (17/12/2018). Jadi keuntungan Brand, ikon, wisatawan, bisnis dan tujuannya adalah kesejahteraan untuk Kalteng pada khususnya.”

So, biarlah kawasan Bukit Nyuling, Tumbang Talaken Manuhing, Gunung Mas, Kalteng dikenal sebagai cagar budaya Dayak, dan sebagai daerah yang memberikan udara segar kepada umat manusia di seluruh planet bumi sepanjang masa. Tentang pilihan Ibu Kota baru di kawasan Kutai Kartanegara dan Penajam Paser Utara, toh ada saudara kita Dayak Paser di sana,. Di antaranya tokoh penting Paser, DR Aji Mummad Heriansyah Andrian Sulaiman ST,MBA. Ia keturunan ke-6 dari “Aji Tiga” yang bergelar “Sultan Muhammad Ali Alamsyah”, Raja ke-19, Kerajaan Sadurangas Paser Balengkong.

Sultan Paser Relaxes before leaving for the 2019 Tumbang Anoi gathering

Wilayah kekuasaan kerajaan Sadurangas ini meliputi Kabupaten Paser yang ada sekarang, ditambah dengan Kabupaten Penajam Paser Utara, lokasi yang dipilih menjadi Ibu Kota NKRI yang baru. Presiden Joko Widodo telah memilih tempat yang memang indah sekaligus aman di Kalimantan. <<

Bagian :  >1  >2  >3

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *