Loading...
English EN Indonesian ID
Borneo Bliss

Sekacip Pinang dari Kutai Utara

Sejak pemekaran Kabupaten Kutai Timur pada 4 Oktober 1999, dampak positif pada kemajuan daerah begitu terasa di daerah itu. Laju perekonomian daerah, tumbuh dengan pesat Pusat perdagangan, hotel, sekolah, rumah sakit, perkantoran, serta sarana lain, seperti jalan dan jembatan, mulai dibangun pemerintah, juga swasta.

H. Majedi Effendy, KETUA Pemekaran CDOB Kutai Utara, Kaltim dan istri.

Kabupaten Kutai Timur ini luasnya 35.747,50 km2, 17% dari total luas provinsi Kalimantan Timur. Demikian luasnya Kabupaten Kutai Timur ini, sehingga kecepatan pembangunan menjadi tidak merata, terutama pada daerah yang jauh dari pusat pemerintahan. Untuk itu, pemekaran daerah menjadi pilihan yang tidak terelakkan, guna percepatan pembangunan di wilayah ini.

“Maka 8 kecamatan di Kab. Kutai Timur, dengan cakupan wilayah 17.960,40 km2, atau 50,24 dari luas wilayah Induk Kanb Kutai Timur, mengajukan usulan menjadi Daerah Otonomi Baru Kutai Utara. Daerah kami ini termasuk daerah inclave, daerah terkurung, tertinggal,” ujar H. Majedi Effendy, KETUA Pemekaran CDOB Kutai Utara, Kaltim.

Pria kelahiran Muara Bengkal, Kaltim ini bertutur kepada Dayakdreams.com di Romin Bidayuh Bambu Wulung, Jakarta Timur, yang sekaligus menjadi Sekretariat Forkonas, Wadah Nasional DOB Indonesia dan rumah perwakilan DOB Sekayam Raya, Kalimantan Barat.

“Kutara memiliki topografi bervariasi, berupa dataran, bukit hingga pegunungan. Kawasan yang relatif datar dan landai, terdapat di Muara Bengkal, Muara Ancalong dan sebagian Muara Wahau yang sangat sesuai untuk dikembangkan menjadi areal permukiman dan pertanian, industri berat, pengembangan tanaman keras dan kawasan prioritas untuk pengembangan bandara,” ujar Majedi.

Sementara kawasan pegunungan kapur ada di daerah Kecamatan Muara Wahau dan Muara Ancalong yang cocok untuk pengembangan pertanian dan perkebunan tertentu seperti jati, karet dan kelapa sawit. Tak ketinggalan potensi tambang batubara, emas, besi, batuan gamping dan logam di Muara Wahau, Muara Ancalong, Busang dan Telen.

“Kondisi lahan di Kutai Utara, sebagian besar merupakan kawasan hutan, meliputi hutan mangrove, hutan primer. Hutan sekunder dan hutan tanaman. Hutan primer banyak dijumpai di daerah pegunungan yang tersebar di Kecamatan Muara Wahau dan Telen,” ujar suami dari Hj. Afrah Rahman ini.

Wakil Ketua Forkonas ini menitipkan foto-foto contoh jalan ke ibukota Kab Induk (Kutim), maupun ibukota Provinsi Kaltim yang rusak parah bila hujan, di CDOB Kutai Utara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Editor's Choice