Jika Tak Jadi Ibukota, Kalimantan Terancam Merana

Para Cendekia Dayak dari Kalimantan Tengah, Timur, Barat dan Utara yang hadir dalam Rakornas FIDN di Jakarta urun pendapat  tentang rencana ibukota negara pindah ke Kalimantan. [Rakornas FIDN di Jakarta]

“Jika ibukota pindah ke Kalimantan, menjadi anugerah. Justru kalau tidak jadi ibukota, Kalimantan akan hancur, merana.  Karena Kalimantan sudah dikavling semua. Hutan-hutan di Kalimantan itu akan dikonversi, kalau tidak jadi ibukota,” kata Prof. Ir. Yetrie Ludang, MP.

Wanita Dayak Kapuas, Kalimantan Tengah ini adalah  Sarjana Kehutanan yang juga menjadi tenaga pengajar di Universitas Palangkaraya, Kalimatan Tengah. Ia begitu prihatin dengan eksploitasi besar-besaran hutan Kalimantan selama ini, untuk menunjang pulau Jawa.“Organisasi-organisasi LSM seperti WWF, Greenpeace mengkritik tentang rencana ibukota pindah karena kuatir  akan tejadi kerusakan hutan. Yang terjadi justru sebaliknya. Jika ibukota di Kalimantan, maka penggarong-penggarong itu tak leluasa lagi menjarah Kalimantan. Kalimantan sudah banyak memberikan hasil untuk negara, saatnya Kalimantan dilindungi,” ujar Dr Andri Elia, Rektor Universitas Palangkaraya.

Prof. Ir. Yetrie Ludang, MP., (kiri atas), Daniel (kanan atas), Hendrik Segah (kiri bawah), and DR. Andri Elia

Salah satu peserta Rakernas FIDN bertutur, pada tahun 2013, Pemerintah Daerah Kalimantan Timur mengajukan ke Mahkamah Konstitusi agar mendapat 20 persen dari hasil tambang batubara , tapi ditolak . “Jawabannya, kalau diterima, maka Jakarta akan miskin. Maka Provinsi Kaltim hanya mendapat tetap 5 % dari hasil pertambangan itu,”katanya.

“Suku bangsa Dayak akan mendunia jika ibukota di Kalimantan. Karena semua kantor Kedutaan negara asing akan dibangun di tanah Dayak. Aspek teknis dan geologis sudah dipertimbangkan. Menjadi ibukota tidak akan menghancurkan Kalimantan,”ujar Andri Elia.

Untuk selanjutnya, Forum Intelektual Dayak Nasional (FIDN) akan menggelar Rakernas pada Agustus 2019 mendatang. Kutai Barat, Kalimantan Timur siap menjadi tuan rumah Rakernas FIDN berikutnya.

“Pemerintah Kabupaten Kutai Barat sudah siap dengan proyek-proyek APBN yang akan diresmikan pemerintah dalam waktu dekat, sehingga FIDN bisa sekaligus mengundang presiden Jokowi hadir dalam Rakernas ini. Apalagi Presiden Jokowi sudah menjalankan ritual Dayak Benuaq, sebelum Pemilu Presiden kemarin. Nah, Dayak Benuaq akan menggelar ritual syukuran dengan kemenangan Beliau,” ujar Hosana Theresia,SH, MH, Sekjen DPP FIDN.

Photos showing the devastating effect of deforestation are from an article in Audubon Magazine. You can see the article [ HERE ]

SHARE THIS PAGE

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *