Loading...
English EN Indonesian ID
G.I. Dayak

Amji Attak — G.I.D.

Pejuang Dayak perkasa yang telah mendapatkan lencana “G.I. Dayak”—

Oleh : Christina Lomon Lyons — 

Bangsa yang besar adalah bangsa yang dapat menghargai pahlawannya. Kalimat itu kerap dikumandangkan para pemimpin negeri ini, saat mengenang jasa pahlawan bangsa. Namun, ucapan itu seakan terbang bak angin lalu bagi masyarakat Dayak. Karena banyak pahlawan Dayak yang dilupakan kepahlawanannya.

Amji Attak, Pahlawan Brimob

Amji Attak diabadikan sebagai nama Ksatrian Korps Brimob Polri, Kelapa Dua, Depok.  Patungnya pun berdiri gagah di sana. Amji Attak, pemuda Dayak dari desa Anjungan, Kabupaten Pontianak, Kalimantan Barat.

Rumah Tahanan Markas Komando ( Rutan Mako) Brimob, selalu ramai dikunjungi orang. Maklum, di sana ada tahanan istimewa di sana, Basuki Tjahaya Purnama atau Pak Ahok. Ada dua patung polisi yang menyambut warga gerbang Ksatrian. Itu adalah Patung Amji Attak dan Tobaki Takuda, dua anggota Brimob Ranger yang tewas dalam konfrontasi dengan Malaysia tahun 1964.

“Nama Amji Attak dipakai karena ia yang paling senior di antara pasukan Brimob yang saat itu ditugaskan dalam konfrontasi Malaysia,” ujar Irjen Pol S Y Wenas kepada Christina Lomon, Pemimpin Redaksi Tabloid Suara Borneo.

Wenas, Komandan Korps Brimob dua periode ini menuturkan, Amji Attak dan kawan-kawannya  dulu adalah Resimen Pelopor yang menyusup diam-diam ke Malaysia.

“Mereka berangkat dengan menggunakan perahu sekoci, lewat Belakang Padang di Batam. Saat sudah dekat daratan di peisisir Malaysia, mereka mendayung. Saat itulah, mereka bertemu Patroli Inggris. Mereka pun adu tembak. Amji Attak dan teman-temannya gugur di laut dekat pesisir Malaysia itu, mereka berjumlah 33 orang gugur di perairan Laut China Selatan,” tutur Wenas.

Pria kelahiran Minahasa, Sulawesi Utara, 15 Juli 1952 ini mengungkap jika ia besar di bawah panji-panji Brimob. Sejak tamat dari AKABRI, Akademi Angkatan Bersenjata RI, pada Desember 1974, dan langsung ditempatkan pada Korps Brimob pada 1975.

“Saya lahir di Brimob. Tahun 1975 masuk latihan Resemen Pelopor. Yang melatih saya ya teman-teman Amji Attak itu. Dari merekalah saya tahu sejarah kepahlawanan Tobaki dan Amji Attak,” ujar Wenas, komandan Brimob kedua setelah Komjen Dr H Mohammad Yasin, dikenal sebagai Bapak Brimob Polri.

Dayak Pendayung Ulung

Amji Attak memimpin pasukannnya, karena ia paling diandalkan dalam urusan mendayung perahu. Sebuah keahlian yang memang dimiliki banyak pemuda Dayak di pedalaman yang dekat dengan kehidupan di banyak sungai di Kalbar.

“Model-model polisi macam Amji Attak ini, begitu lihat patroli lawan datang, bukannya dia lari, tapi justru dia tantang, dia serang dan sikat balik dengan adu tembak,” ujar Wenas.

Dari cerita teman-temannya, kepada Wenas, Amji Atttak adalah sosok pemberani, tapi saat itu kurang beruntung.

“Karena saat konfrontasi itu ada pasukan lain yang berhasil menyusup sampai ke dalam hutan Malaysia, kemudian menjadi tawanan perang. Namanya Herman Kayun, dari Jawa Barat. Sekarang tinggal di Pontianak, karena istrinya orang Kalbar. Mereka adalah pahlawan-pahlawan bangsa dari Brimob,” ujar Wenas bangga.

Wenas juiga bertutur, saat ini anak-anak buahnya di Brimob, banyak berasal dari suku Dayak, Batak, Kawanua, dan Indonesia Timur.

“Mereka ini rata-rata berdarah panas, biasanya kerap membuat keributan jika sedang berada di asarama. Mereka-mereka inilah yang jadi andalan saat tugas di daerah-daerah konflik, seperti Aceh, Poso, Ambon dan lainnnya. Kalau di asrama, lagi suasana damai, mereka biasanya bandel, tukang berantem ,”ungkap Wenas.

Tak heran, saat di medan konflik, jika mendengar suara tembakan musuh, prajurit-prajurit ini bukannnya sembunyi seperti yang lain, tapi justru berlari mengejar musuh sambil terus m,emberondong peluru ke arah musuh. Sehingga musuh lari tunggang-langgang,”cerita Wenas.

Menurut Wenas, prajurit-prajurit seperti ini harus dipimpin dengan bijak adan taktik tersendiri, sehingga mereka menjadi pasukan andalan. Tak sekadar nekad dan berani, tetapi juga dibekali dengan strategi dan perhitungan yang matang saat dalam kerusuhan dan perang.

“Makanya jika mereka sedang berantem di asrama, mereka tidak saya hukum, tapi saya pangggil dan beri nasihat. Mereka mau mendengar dan kita beri banyak kegiatan seperti olahraga,”kenang Wenas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Editor's Choice