Loading...
English EN Indonesian ID
G.I. Dayak

Tugas Terakhirnya “Ganyang Malaysia”

By : Christina Lomon Lyons —

Patung sosok Amji Attak itu berdiri gagah, menyambut setiap tamu yang bertandang ke Mako Brimob di Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat itu. Di samping Amji Attak, ada patung Taboky Takuda, keduanya Ranger, pahlawan Brimob yang gugur dalam Operasi Dwikora.

Hampir tidak ada media massa yang menyebut nama Amji Attak dalam peristiwa berdarah di Rutan Salemba Cabang Mako Brimob di Kelapa Dua, Depok,10 Mei 2018 lalu itu. Seakan-akan tabu atau enggan menyebut nama tersebut. Padahal, jelas-jelas terpampang nama Kesatrian Amji Attak, di pintu gerbang Markas Komando Brigade Mobil di pinggir jalan Komjen (Pol) M Yasin,Kelapa Dua,  dulu bernama jalan  Akses UI, Kelurahan Tugu, Kecamatan Cimanggis, Kota Depok , Kode Pos 16951.

Patriot Bangsa dari Dayak Kenayant

Belum banyak yang tahu perjuangan seorang Amji Atak. Di kalangan Netizen malah ada yang menyebut nama Kesatrian Amji Attak, merupakan sebuah singkatan atau istilah dalam kepolisian. Hingga seorang Netizen dengan nama Kesehatan Resimen 2 Pelopor menulis : Amjiatak itu bukan singkatan saudaraku, tapi salah satu pahlawan kita.

Amji Atak,putra Dayak, pahlawan Brimob

Sementara, seorang netizen lainnya, bernama Taat Soeprakoso menulis : Ingatlah, itu kan area bermain kita waktu kecil-kecil. Itukan patungnya Amji Attak dan Taboki, berikut daftar nama-nama pejuang dari Menpor yang gugur dalam pembebasan Irian Barat, sekarang Papua ok!

Walau lebih tepatnya, Amji gugur dalam Operasi Dwikora. Seperti ditulis Netizen bernama Djopantri Pasaribu : Yang saya tahu, Brigadir Amji Atak itu adalah prajurit yang melakukan penyusupan ke Malaysia dengan 1 regu anggota yang bertempur melawan pasukan khusus SAS dari Inggris.

Kemudian seorang Netizen bernama Michael menulis : AMJI ATTAK asli putra Dayak Kanayant, Kalimantan Barat, yang menjadi Resimen Pelopor (Ranger), Kelapa Dua, yang gugur di Laut China Selatan, dengan pangkat saat gugur adalah Aipda.

Michael menyertakan pula sebuah foto hitam putih, wajah seorang pria berambut pendek ikal, berkumis tipis, mengulum senyum tipis pula.

“Inilah beliau, Amji Attak, foto saat pertama masuk polisi di Kalimantan Barat,” tulis Michael di layar internet.

Michael Jumat dan ibu mertuanya, Ny Sudarti, memberi banyak info tentang Amji Atak kepada penulis

Michael Jumat, demikian nama lengkap Netizen itu. Ia pula yang menghubungi Christina Lomon Lyons, membuka jalan, untuk menyusuri jejak Amji Attak, sang Patriot Indonesia, yang jarang diungkap itu.

“Maaf Bu…saya Michael, anak pak Tumin…saya tertarik dengan tulisan Ibu mengenai Amji Attak di Dayakdreams.com (Oktober 2017). Kebetulan Amji Attak keluarga besar Istri saya,” kalimat penuh sopan-santun itu tiba di nomor Whatsaapku, April 2018 lalu.

Dan WA singkat itu menjadi awal perjalananku, melanjutkan penyusuran melacak jejak Amji Attak. Puji Tuhan, Michael Lyons, suamiku, sangat antusias mendukung, dan langsung memesan tiket pesawat Citilink ke bumi Kalimantan Barat, tanah kelahiran Amji Attak, yang juga kampung halamanku.

Setelah Cintanya Ditolak

Awak Datang, Kamek Sambot. Kalimat berbahasa Melayu Pontianak itu, menyambut kedatangan aku dan suami, setiba di bandar udara Supadio, yang terletak di kampung Sungai Durian, Kabupaten Kubu Raya, pemekaran dari Kabupaten Pontianak, Kalimantan Barat. Sejenak menyempatkan diri berfoto di miniatur Tugu Khatulistiwa di ruang kedatangan bandara, kami kemudian langsung membeli tiket taksi bandara, langsung ke tujuan, rumah keluarga Michael Jumat, di   Gang Siaga, Sungai Raya, yang juga masih dalam wilayah Kabupatenn Kubu Raya.

Michael Lyons, di bandara Supadio, Kalbar

Tak sampai setengah jam, kami sudah tiba di Gang Siaga, di depan Ksatrian Sumarno, Asrama Brimob di Sungai Raya, Kubu Raya. Tempat yang tidak asing bagiku. Namun suasananya sudah sangat jauh berbeda. Ketika aku bersama orang tuaku tinggal di rumah di Jalan Adisucipto, tepat di depan Asrama brimob itu sejak tahun 1969 hingga 1990-an, masih sepi. Air yang mengalir di parit depan rumah dan sungai kecil bernama Sungai Seribu, airnya dulu masih bening kecoklatan.

Ny Sudarti, keponakan Amji Atak, bersama keluarga di rumahnya di Sungai Raya,Kubu Raya. Dari Kiri: Michael (KL) dan istri, Christian Paskalis, Plagia Priscilla Elsti, Rolin Murtini, Sudarti, Suhaini

Setiba di sana, tak kulihat lagi pemandangan itu. Rumah orangtuaku dulu, sudah menjadi sebuah mini market kecil. Parit di depan rumah, tempat ku dulu sering berenang bersama abang, adik-adik dan temann-teman, sudah tertutup beton. Sungai Seribu pun sudah padat tertutup tanaman Enceng Gondok. Semua tinggal kenangan.

“Selamat datang di Gang Siaga lagi,” Michael menyalami kami, memperkenalkan pada istrinya, Triyani, salah satu cucu dari Amji Attak.

Keluarga besar Amji Atak di Desa Kepayang, antusias memberi berbagai data kepada penulis
Husni Osnata berbagi cerita tentang Pamannya, Amji kepada penulis

“Ini Ibu Sudarti, mertua saya, keponakan langsung dari Amji Attak,” ujar Michael.

Sudarti, putri sulung dari Alberta Ca’ang Atak, kakak Amji Attak nomor 3.

“Jadi Kakek Atak dan Nenek Ipah itu punya anak 8 orang. Mulai dari yang sulung Endah Atak, Endong Atak, Alberta Ca’ang Atak, Ibu saya, lalu paman Sa’Ibon Atak, Andreas Atco’ Atak, Hamid Atak, dan putra ke-7 Amji Atak dan yang bungsu Darmawi Atak,” tutur Sudarti.

Ibu Mertua dari Michael Jumat itu kemudian menyerahkan lembaran berisi data tentang keluarga besar Atak, yang dirangkum oleh Beny Kawistoro, cucu Amji Atak, tepatnya dari Aminah, adik Sudarti.Terungkap jika Amji Atak, lahir pada tahun 1933, walau tanggal dan bulannya bellum diketahui. Amji mengawali kariernya sebagai polisi di Pontianak, sekitar 75 km dari kampungnya di desa Kepayang, Anjungan, Kalimantan Barat.

Setelah selesai dalam penugasan Trikora, pembebasan Irian Barat, Amji mendapat cuti dari Resimen Pelopor, untuk pulang ke kampung halamannya, Anjungan, pada tahun 1964. Saat itu Amji datang bersama kawannya, seorang pria dari Indonesia Timur, menemui keluarganya di kampung Kepayang.

Penulis, Michael Lyons dan keponakan-keponakan Amji Atak di Anjongan. From Left : Christina Lomon Lyons, Michael Lyons, Subianto, fabianus toto, husni osnata, Purwanto (tarahan), andreas mitro (olon)

“Rencananya, Amji ingin melamar seorang gadis yang menarik hatinya di kampung Kepayang. Tapi orang tua si gadis tidak setuju anak gadisnya menikah dengan ABRI,karena akan sering ditinggal bertugas berperang di daerah-daerah konflik,” cerita Husni Osnata, adik Sudarti.

Usia sudah kepala 3, lamaran cintanya ditolak, Amji jelas patah hati. Rencananya segera berumah tangga dengan gadis idamannya, sang putri Dayak Kenayant buyar. Ia pun kembali ke Jakarta dengan membawa rasa kecewa.Setiba kembali di Asrama Kelapa Dua, Amji langsung menerima tugas, infiltrasi dalam Operasi Dwikora, “Ganyang Malaysia”. Ternyata, itulah tugas terakhirnya. (Bersambung)

Penulis dan Michael Lyons, menyusuri jejak Amji Atak di hutan Anjongan, Kalbar
Perjalanan di desa Anjongan, menemui keluarga besar Amji Atak
Di sini letak makam (Alm) Atak, orang tua Amji
Parit ini dulu sungai kecil , tempat Amji Atak mandi di kampungnya
Sejenak melepas lelah, membasuh keringat dengan air bening Anjongan
Membersihkan makam Ibunda Amji Atak di tengah hutan Desa Kepayang
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Editor's Choice