Loading...
English EN Indonesian ID
Uncategorized

Bercermin Pada Ignatius Jonan

By: Julius Boy Bidayuh —

“Berbuat baik saja. Yang lain ada Gusti Allah kok.” Itulah salah satu pernyataan singkat dari Ignasius Jonan dalam orasi Dies Natalis ke 35 dan Sertijab Rektor Unika Soegijapranata, Semarang (Kamis, 31/8) yang lalu, yang ditayangkan saat akhir Misa Ekaristidi Gereja Santo Paulus Miki Salatiga, , Minggu 26/11/2017.

Pernyataan tersebut merupakan buah refleksinya atas pengalamannya, menjadi menteri di era Presiden Joko Widodo. Jonan merupakan satu-satunya menteri yang dua kali menjadi menteri, setelah diberhentikan di era kabinet dan presiden yang sama.

Pada awalnya ia menjadi Menteri Perhubungan, dan diberhentikan pada tanggal 27 Juli 2016. Sekitar 2,5 bulan kemudian, ia diangkat menjadi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, pada 14 Oktober 2016.

Mother Theresa

“Semua orang harus mempunyai cita-cita untuk mengabdi kepada orang lain, untuk bermanfaat bagi orang lain sebesar-besarnya. Jika kita berbuat apapun juga dengan cinta yang luar biasa, hasilnya juga akan luar biasa,” tegas Jonan.

Ia terinspirasi dari kebijaksanaan Ibu Teresa dari Kalkuta. Ibu Teresa pernah memberikan pesan wasiat, “Lakukanlah hal-hal yang biasa dan kecil dengan cinta yang luar biasa.”

Kata kuncinya adalah kesetiaan atau komitmen. Orang akan dapat dipercaya dan diandalkan, jika ia bertekun dan setia pada hal-hal yang kecil.

Hal ini pula yang ditegaskan Tuhan Yesus pada perumpamaan dalam bacaan Injil. “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuk dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.”

Hamba yang pertama dan kedua, dipuji oleh tuannya karena mereka berani masuk ke zona risiko dan bisa dipercaya. Sedangkan hamba yang ketiga, memilih zona nyaman dan aman. Ketakutan untuk menghadapi risiko, membuat dia tidak berani melakukan apa-apa.

Talenta dalam perumpamaan tersebut lebih dari sekadar bakat. Menurut konteks Injil, talenta adalah segala anugerah dan fasilitas yang diberikan oleh Tuhan untuk mengembangkan Kerajaan Allah. Hal tersebut dapat berupa bakat, kesempatan, fasilitas dan sebagainya. Bisa berwujud anugerah rohani maupun jasmani.

Intinya segala pemberian itu cukup untuk mengembangkan Kerajaan Allah, tinggal bagaimana kita mau dan mampu mengembangkannya. Manusia diberi kebebasan penuh untuk mengembangkannya, sesuai dengan kesanggupan masing-masing.

Hamba ketiga sebenarnya bisa mengembangkan talenta tersebut, tetapi ia tidak mau. Hambatannya ada pada prasangka buruk, bahwa tuannya seorang yang kejam, yang mau cari enak dan dapat untung sendiri.

“Bagi kita umat beriman, semangat untuk mengembangkan segala anugerah Tuhan tergantung pula pada cara kita memandang jati diri Tuhan. Jika Tuhan dilihat sebagai hakim, yang suka mencari kesalahan dan menghukum, maka hidup iman kita hanya berisi ketakutan dihukum dan benci pada Tuhan. Jika kita melihat Tuhan sebagai pribadi yang penuh welas asih, kita akan menghayati iman dengan gembira dan tulus. Maka, cara pandang kita terhadap Tuhan akan menentukan cara kita menghayati iman dan mengembangkan segala anugerah-Nya,” tutur Romo Yohanes Gunawan, Pr.

Tuan dalam perumpamaan tersebut tidak memperhitungkan berapa banyak hasil yang diperoleh, tetapi lebih melihat bagaimana usaha untuk bertekun dan bertanggung jawab para hambanya. Dengan demikian yang dinilai bukan kuantitas (jumlah) yang dihasilkan, tetapi kualitas (mutu) dari para hamba sebagai orang yang diberi kepercayaan.

“Maka marilah kita setia dan bertekun pada tugas dan pekerjaan sehari-hari yang terlihat kecil, sederhana dan sepele. Lakukanlah pekerjaan tersebut dengan penuh kasih, baik sebagai ibu rumah tangga, berjualan dipasar/ warung, ngantor, antar jemput cucu, ternak teri (anter anak anter isteri), mengajar disekolah/kampus, belajar, dan lain sebagainya,” ujar Romo Yohanes Gunawan, Pr

Pertanyaan refleksinya : Apakah akhir-akhir ini kita sedang bergulat dengan masalah ketekunan dan kesetiaan dalam hidup ini ? Apa niat kita merawat komitmen untuk bertekun dan setia dalam hidup ini ?

Selamat merenungkan, selamat menikmati akhir pekan bersama keluarga dan sahabat tercinta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Editor's Choice