MENDOAN JADI REBUTAN USAI MISA INKULTURASI DI GEREJA ANAK DOMBA

Oleh : Christina Lomon Lyons—

Terik mentari yang begitu menyengat menjelang tengah hari , tak mengurung semangat umat meramaikan pesta rakyat di halaman Gereja Anak Domba, Cipayung, Jakarta Timur, Minggu 22/10.

Dalam rangka memperingati Hari Pangan Sedunia 2017, Paroki Santo Yohanes Maria Vianney, khusus menggelar Misa Inkulturasi  Banyumasan, pada Misa kedua yang dimulai pukul 08.30 pagi.  Misa pagi itu,dipimpin tiga Pastor Paroki, yaitu Romo Thomas Aquino Rohadi Widagdo, Romo Teguh dan Romo Angga yang  khusus mengenakan pakaian tradisional Banyumasan.

Demikian pula umat yang bertugas sebagai Among Tamu, Lektor, paduan suara, Misdinar atau putra-putri Altar, semua berbalut  busana tradisional Banyumasan. Khusus Among Tamu  pria mengenakan Beskap dan bawahan kain batik jarik serta asesoris rantai menjurai di dada, lengkap dengan blangkon dan Keris di pinggang belakang.

“Saya khusus mendapat kiriman Getuk goreng dari Purwokerto untuk meramaikan pesta rakyat kita,” ujar Romo Teguh di sela kotbahnya yang mengajak umat menghargai pangan, sebagai persembahan dari alam ciptaan Tuhan untuk manusia.

Maka, usai Misa, antusias umat menyaksikan hiburan kesenian Banyumasan seperti Ebek, Lengger dan Tek-tek. Ebeg atau kuda kepang ,  menggambarkan kegagahan prajurit berkuda.  Dan tari Lengger yang diiringi perangkat musik Calung, mengiringi kehadiran  bodor atau badut. Ditingkahi kesenian Banyumasan ini, umat pun ramai-ramai menyerbu pangan Nusantara yang disajikan panitia dari Wilayah VI. Tempe Mendoan dan Dawet Ayu menjadi menu yang paling diserbu umat.

Menyesuaikan diri dengan kebudayaan setempat, inkulturasi, menjadi salah satu ciri agama Katolik di Indonesia. Dalam  kajian teologi agama Katolik kerap disamakan dengan indigenisasi, membaur dengan unsur setempat or to be native), dan konstektualisasi yang berarti menyatukan ajaran agama ke dalam situasi khusus dalam konteks-konteks tertentu.

Juga  dalam bentuk inkarnasi (Injil Yohanes 1:14 : SabdaNya telah menjadi daging dan tinggal di dalam kita). Seperti halnya Yesus dilahirkan, hidup dan mati dalam konteks budaya tertentu, Ia mempelajari bahasa dan adat istiadat, dimana melalui itu semua,  Ia mengekspresikan kebenaran dan cinta kasih Allah. Yesus melakukan pengosongan diri dan secara tak disadari melakukan pengaslian budaya atau menginkulturasi, serta berperan penuh dalam budaya dimana Ia dilahirkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *