Murid yang Tak Dikenal

Kini, 39 tahun telah lewat. Namun memori tetang sekolah ‘elit’ di dekat lapangan bola itu masih segar. Apalagi sejak acara reuni atau sekadar kumpul-kumpul dengan kawan karib lama, seakan menjadi tren saat ini. Berkat perkembangan teknologi komunikasi, bertemu dengan teman-teman lama, sudah demikian mudah.  Mulai dari reuni dengan teman SD, SMP, SMA, kampus, hingga tempat bekerja.

baca bagian 1: Memori dari Sekolah ‘Elit’ Dekat Lapangan Bola Itu

Acara kumpul-kumpul dengan teman lama yang teranyar kualami, Sabtu  15/6 kemarin. Ini bukan kali pertama, aluni SMP Suster menggelar acara reuni atau sekadar kongkow bareng. Pemrakarsanya kali ini, Benjamin Astono, murid SMP yang sangat populer saat SMP dulu. Ia tampil flamboyan, maklum, ibunya seorang pelaku usaha  Salon kecantikan, yang tergolonng langka di Pontianak pada waktu itu.

Aku sendiri, tergolong murid yang tegrolong ‘ada dan tiada’ alias tak banyak dikenal saat SMP itu. Jadi maklum saja,saat acara kumpul-kumpul lagi begini, masih banyak yang bertanya-tanya,”Christin..kamu dulu kelas A atau B ya?”.

Atau pertanyaan lain,”Christin..dulu kamu berteman dengan siapa ?”

Salah seorang kawan lama yang pernah sama-sama aktif di majalah dinding, Andri Tasmin sempat menjawab di group WA bertahun lalu, menjelaskan siapa diriku.

“Christin itu, dulu anaknya kurus, tinggi, rambutnya lurus,”begitu Andri.

Aku ingat, rumah Andri berada di seberang samping sekolah. Walau kami saling kenal, tapi tidak akrab. Aku tahu, banyak teman-teman sekolah sering singgah di rumahnya. Aku hanya memandang dari jauh,dari bangku tukang bakso di lapangan PSP.

Andri berhasil mencapai cita-citanya sebagai dokter. Tapi ia harus menerima takdir, wafat sekitar 2 tahun lalu, karena penyakit kanker yang dideritanya.

Nostalgia Makanan Pontianak

Gank SMP Suster’80 tetap intens berkomunikasi via WA. Penggagas group ini, tentulah murid-murid populer saat SMP dulu,seperti Benjamin, Giri, Clara, Theresia, Wage dan Lulu  Indrati.  Aku berusaha sebisaku untuk hadir dalam avcara kumpul-kumpul. Walau tak bisa hadir dalam acara Reuni besar lalu, karena kesibukan tak bisa ditinggalkan.

Lebih dari 2 tahun lalu, aku ikut kumpul-kumpul dengan teman-teman SMP ini warung Bakso Afung di kawasan Sunter, Jakarta Utara.

Nah, Sabtu 15/6 lalu, kembali kumpul-kumpul lagi. Kali ini di restoran Pecel Merapi, juga di Sunter. Restoran yng menjual berbagai macam makanan khas Pontianak, seperti Kwetiau bakso, Kwecap, chaikue, choipan dan lainnya, memang banyak dijumpai dijual di ruko-ruko di sepanjang jalan Sunter Podomoro, Jakarta Utara.

“Di Pecel Merapi, kita bisa mencoba lezatnya masakan khas Pontianak di Jakarta,”ujar Elis, alumni SMP seperti berpromosi.

Maka, para alumnus SMP Suster yang siang itu berkumpul pun bersenda gurau, bernostalgia dengan mengecap makanan khas Pontianak. Aku datang bersama suamiku, Michael Lyons, disambut hangat teman-teman lama seperti Evo, Nani Diana, Valen Dharma, Susana, Lusy, Lina Haliman, Elis, Mawarti, dan Benjamin.

Begitulah, ibarat pepatah “Teman lama adalah emas. Teman baru adalah berlian. Jika kamu mendapat sebuah berlian, jangan lupakan emas. Karena untuk mengikat sebuah berlian menjadi cincin, kamu tetap memerlukan  sang Emas”. <<

baca bagian 1: Memori dari Sekolah ‘Elit’ Dekat Lapangan Bola Itu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *