Pecinta Dayak Bentuk Yayasan Dayak Center Internasional

Bertolak dari keinginan kuat beberapa orang Dayak yang prihatin, terhadap kondisi kehidupan masyarakat Dayak di akar rumput, di desa-desa, di pelosok terpencil di Kalimantan, yang masih tertinggal, menjadi pencetus dibentuknya Yayasan Dayak Center Internasional.

Berawal dari WAG ( Whatsaap Group), Persatuan Dayak (Unity of Dayak) yang anggotanya terdiri dari lintas generasi, dari seluruh provinsi di Kalimantan dan daerah lain di Indonesia, bahkan di manca negara, dengan aneka latar belakang dan pendiddikan, tokoh politik, petinggi pemerintahan, tokoh masyarakat dan adat.Berbagai topik yang sedang aktual, menjadi bahan diskusi dan debat di WAG ini. Terutama tentunya, yang berkaitan dengan Kalimantan dan Dayak, suku bangsa asli yang mendiami pulau terbesar ke-3 di dunia ini.

“Masyarakat Dayak di Kalimantan menghadapi banyak problema. Di antaranya pendidikan, kurangnya sarana prasarana dan tenaga guru yang memadai. Bidang kesehatan pun demikian, minimnya tenaga medis di tingkat desa. Juga kondisi infrastruktur jalan, lapangan pekerjaan, masalah transmigrasi, kebun sawit dan pelaku bisnis Dayak terancam akan tersingkir dengan pengusaha pendatang, dan masih banyak masalah lainnya,”ujar Ir Nusa Joseph Tundan, salah satu aktivis WAG Unity of Dayak ini.

Maka, dua orang admin WAG Unity of Dayak ini, Ir Nusa Joseph Toendan dan Yuli Esther Seth Arun, kemudian mengokohkan WAG ini menjadi sebuah organisasi bernama Yayasan Dayak Center Internasional.

“Dibentuknya Yayasan Dayak Center Internasional ini, bertolak dari keinginan kuat beberapa orang Dayak yang prihatin terhadap kondisi kehidupan masyarakat Dayak di akar rumput, di desa-desa, di pelosok terpencil di Kalimantan, yang jauh tertinggal dibandingkan saudara-saudaranya sebangsa setanah air dari suku-suku lain di Indonesia,” ujar Noesa Toendan, yang meraih gelar Sarjana Teknik di Hokkaido University, Jepang (1968).

YDCI ini akan melakukan kegiatan di bidang sosial, pendidikan dan kebudayaan, selain itu akan melakukan kegiatan penelitian dan pengkajian terhadap kebijakan-kebijakan publik yang berdampak pada kehidupan dan kemajuan masyarakat Dayak.

“Juga mengumpulkan informasi-informasi faktual tentang kehidupan masyarakat Dayak di akar rumput, dan hal-hal yang sedang dihadapi masyarakat Dayak untuk dikaji, dan dibuat usulan-usulan konstruktif untuk diajukan kepada pihak-pihak terkait,”lanjut pria sepuh kelahiran Tewah, Kalimantan Tengah ini.

Nusa J Toendan dan Ny. Nyelong Inga Simon, mantan Dirjen Kementerian Daerah Tertinggal, bertindak sebagai Dewan Pembina Yayasan Dayak Center Internasional. Dan Yuli Esther Seth Arun , aktivis Dayak kelahiran Bukit Rawi, Kalteng tahun 1972, dipercaya sebagai Ketua Umum. Ia salah satu penerima beasiswa kuliah di Jakarta dari konglomerat ternama Liem Swie Liong pada tahun 1992.

Berdirinya Yayasan Dayak Center Internasional ini juga didukung para aktivis dam pecinta Dayak lainnya seperti Otniel Rudolf Sumual SH, MH, Msi (Dayak Kaltim), seorang Advokat sebagai Wakil Ketua Umum, Christina Salomita S.Sos (Dayak Kalbar) sebagai Sekretaris Umum, Magdalena Raing, sebagai Wasekum, dan Detty L.A Ottemmoesoe sebagai Bendahara Umum. Dan pengurus YDCI lainnya alah Gea Gissyantie, Tamunan, Erasmus Toendan dan DR Effrata S.Pd.M.Si.

Yayasan DCI berkantor pusat di Jakarta dan akan membuka kantor-kantor cabang atau perwakilan di daerah-daerah lain, di dalam maupun di luar negeri.

Penandatanganan akta Notaris Yayasan Dayak Center Internasional, dilakukan di depan Notaris Saharto Saharjo SH, di Dapur Raya Pasar Raya Blok M, Jakarta Selatan. Saharto Sahardjo SH adalah putra dari Saharjo SH, Menteri HAM era Presiden Soekarno, dan namanya diabadi kan menjadi nama Jalan Saharjo, kawasan Tebet, Jakarta Selatan. <<

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *