Benarkah Presiden Berlindung dengan Suku Dayak di Ibu Kota Baru ?

Bagian :  >1 >2  >3

Seorang penulis media Online merilis artikel berjudul Jokowi Hidupkan Mimpi Soekaro, Dilindungi Suku Dayak. Diterakan bahwa selain pertimbangan geografis dan ekonomi, Presiden Jokowi juga memperhatikan tentang stabilitas bangsa ini. Disebut jika Kalimantan adalah tempat yang memiliki tingkat keamanan yang tinggi. Jokowi melindungi Indonesia, Jokowi juga dilindungi orang-orang Dayak.

Tak dipungkiri, suku bangsa Dayak sungguh jatuh cinta dan masih cinta Jokowi hingga kini. Bahwa Jokowi memenangkan pilpres di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara dan hanya kalah tipis di Kalimantan Seatan pada Pilpres April 2019.

Soal tingkat keamanan yang tinggi, boleh jadi dalam menghadapi ancaman kelompok militan seperti FPI. Terbukti tokoh-tokoh FPI ditolak untuk mendarat di bumi Kalimantan. Namun benarkah Presiden Berlindung dengan Suku Dayak di Ibu Kota Baru ? Berbagai tanggapan bermunculan, sejak Presiden kebanggaan Dayak dan Indonesia itu memilih Kalimantan Timur sebagai Ibu Kota negara yang baru. Dan tiga hari sebelumnya, organisasi Forum Intelektual Dayak Nasional, menggelar Seminar terkait pemindahan Ibu Kota Negara yang baru tersebut, di Balai Komando, Komplek Militer Cijantung, Jakarta Timur, 23/8.

Chairman of the Seminar Committee, Dr. Andri Elia Embang, Chancellor of the University of Palangkaraya repeatedly emphasized that wherever the choice of the capital city is on the island of Borneo, it is not a problem for the Dayak community.
DR Andri Elia Embang speaks with Kompas reporter at FIDN seminar

“Karena tetap di satu hamparan pulau Kalimantan. Kami warga Dayak menerima selapang-lapangnya dan memastikan kondisi Kalimantan aman terkendali,”tegas Andri Elia yang juga Ketua Harian Dewan Adat Dayak (DAD) Kalimantan Tengah ini.

Ada Mereka di Tanah Dayak

Seorang Dayak, sebut saja bernama Migas, di sebuah WAG (Whatsaap Group) mempertanyakan hal itu. “Jokowi menjalankan mandat Soekarno, berlindung dengan suku Dayak? Sekarang di Kaltim itu dihuni hanya 20 % suku Dayak seperti Dayak Kutai, Paser, Benuo, Modang, Bahau, Ngaju, dan Meratus.  Berbanding 50% Bugis, Mandar 15%, Jawa 15 %, Banjar dan lainnya. Di situ ada pula pengusaha Erick Tohir, Tomy Winata, Prayogo Pangestu, Anton Gunadi, grup Alam Sutra Lippo, Agung Sedayu, Basowa dan konglomerat lainnya”.

“Kalla Group juga sudah menggurita di Kaltim dan Kalsel,”tulis yang lainnya.

Sultan paser receives an award from Dr. Elia reassuring the bond between East and West Kalimantan

“Yang jelas Kaltim itu dikuasai oleh Kalla Group dan Aburizal Bakri, sebagian Ruhut Binzar Panjaitan. Banyak saudagar-saudagar Bugis. Dan orang Dayak hanya menjadi sub kontrak saja, menjadi sekuriti atau humas. Di pemda Kaltim sedikit sekali orang Dayak menjadi ASN (dulu PNS),” tulis seorang  Dayak yang bertugas di Ombudsman.

Sementara seorang lainnya juga menulis komentar begini. “Ketika Wapres bilang calon Ibukota baru di Kalimantan harus bebas masalah gambut  beberapa waktu lalu, sudah kelihatan arahnya dimana  ibu kota negara. Memang peran Bugis paling dominan, termasuk di kabupaten Paser dan sekitarnya. Kita orang Dayak, tiarap saja”.

For many Dayak of East Kalimantan, life will be forever changed

Berbagai komentar sarkartik setelah Kaltim yang dipilih dan Kalteng yang tidak dipilih  sebagai IKN baru.

“Kenapa Kaltim yang dipilih? Sstt…. jika masyarakat Dayak menuntut hak dan melakukan aksi demo di Kaltim, maka Dayak Kalteg, Kalbar, Kalsel, dan Kaltara tidak akan bisa masuk ke Kaltim karena aksesnya susah ditembus,”celetuk seorang yang lain.

Teringat saat acara Napak Tilas Perdamaian Dayak di Tumbang Anoi, Juli 2019. Bagaimana antusiasnya masyarakat Dayak berduyun-duyun datang dari segala penjuru Kalimantan. Berkendara roda empat, menembus hutan belantara ribuan kilometer, demi kebersamaan dalam Deklarasi Tumbang Anoi itu.

Dayaks from every corner of Borneo endured hardships to gather at Tumbang Anoi.

Tentu pemandangan ini sulit dilakukan di Ibu Kota baru. Karena posisinya ada di ujung timur Kalimantan, dekat dengan pantai Selat Makassar. Berkunjunglah ke Balikpapan. Mendarat di Bandar Udara Sepinggan yang sudah berganti nama menjadi Sultan Aji Mumammad Sulaiman, diambil dari nama Sultan Kutai Kartanegara ke-18. Masuk ke ruang kedatangan, disambut lantunan musik Dayak di bandara. Demikian pun ukiran-ukiran Dayak yang mendominasi.

Sultan Pasir celebrates at Tumbang Anoi 2019

Di dekat bandara, ada sebuah rumah makan prasmanan favorit banyak warga yang berkunjung ke Balikpapan. Menunya sungguh menggiurkan, didominasi ikan sungai dan Sea Food. Pemiliknya,bukan orang asli Kalimantan, bukan orang Dayak.

Lalu, berangkatlah ke Samarinda. Di sepanjang perjalanan, banyak pedagang kuliner. Uniknya, seperti jika hendak melancong ke kawasan Bogor dan Cianjur. Banyak yang menjual tahu Sumedang. Bahkan sebuah restoran dengan nama Tahu Sumedang itu dipampang lebar, mencolok di pinggir jalan raya antara Balikpapan-Samarinda.

A traditional Dayak meal may be difficult to find in East Kalimantan

Berbagai Kuliner Nusantara bisa ditemukan di Kaltim ini. Mulai dari Mie Aceh, Nasi Padang, Masakan Manado, Sate Madura, Soto Makasar, Ayam Betutu Bali dan sebagainya.

Justru tak ada Rumah Makan Dayak, seperti bisa ditemui di Kalimantan Tengah atau Kalimantan Barat.

“Orang Dayak tampaknya kurang tertarik dengan bisnis. Lebih banyak yang memilih menjadi pegawai kantoran saja,”ujar Lusia Huring Muya,Spd, M.M, peserta Seminar FIDN di Balai Komando Cijantung Jakarta Timur, 23 Agustus 2019.

Pendapatnya itu diakui pula oleh rekannya, Cresensia Maria, keduanya datang dari Samarinda, Kalimantan Timur.

Lepas dari pernyataan pro dan kontra, Kaltim dipilih menjadi IKN baru,  Kalimantan adalah pulau kediaman orang Dayak. Meski sudah didominasi pendatang dari Sulawesi dan lainnya, pemerintah pusat diyakini  akan tetap menjaga warisan budaya nenek moyang yang ada di sekitar ibukota tersebut. Dan 4 provinsi sekitarnya, Kaltara, Kalteng, Kalsel dan Kalbar akan tetap mempunyai peran penting sebagai kawasan penyangga ibu kota negara.

Engineering scholar, Oskar along with Christina Lomon Lyons.

Seperti diungkap Oskar, seorang sarjana teknik yang bekerja pada Dinas sumber Daya Alam, Kalteng mengatakan, “Saudara-saudaraku yang bakena balingga ( bahasa Dayak Ngajuk yang artinya cantik dan ganteng). Sekarang kita mau bangsa Dayak maju, ikut berperan dalam kancah pergulatan Inpoleksosbud (industri,politik, ekonomi, sosial, budaya) di republik ini. Bangsa Dayak hari ini harus mulai dan maju, serta berperan dalam bidang ekonomi, pendidikan, pengambil kebijakan, mari kita bergerak sesuai dengan talenta/bidang kerja kita saat ini untuk mewujudkan impian tersebut”. <<

Bagian :  >1 >2  >3

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *