BERAWAL DARI RITUAL TOLAK BALA SUKU DAYAK & TIONGHOA

Bertandang ke Kalimantan Barat, tidak lengkap jika belum menengok Kota Seribu Kelenteng, Singkawang. Kota di pinggir pantai Pasir Panjang ini, banyak dikunjungi  wisatawan lokal dan mancanegara , terutama saat perayaan Cap Go Meh.

Cap Go Meh merupakan rangkaian terakhir pada perayaan tahun baru Imlek. Istilah ini berasal dari dialek Hokkian yang berarti hari ke lima belas di bulan pertama tahun baru Imlek.

Awal mula dari perayaan ini di negeri leluhurnya adalah para petani memasang lampion-lampion di sekeliling ladang untuk mengusir hama dan menakut-nakuti binatang perusak tanaman. Selain itu juga untuk menciptakan pemandangan yang indah di malam hari. Untuk mengusir binatang perusak tanaman, mereka menambah dengan suara bunyi-bunyian dengan memukul lonceng dan tambur, serta bermain barongsai agar terlihat lebih meriah dan bermanfaat untuk menghibur penduduk desa. Kepercayaan dan tradisi budaya ini berlanjut turun temurun, baik di daratan Tiongkok maupun di perantauan di penjuru dunia.

Khusus di Kalimantan Barat, awal mula datangnya etnis Tionghoa dari China Selatan    di daerah-daerah pesisir pantai dan muara sungai yang mereka sebut dengan nama  San Keuw Jong, yang sekarang dikenal dengan nama Singkawang. Para imigran ini kebanyakan berasal dari suku Khek (Hakka). Di tahun 1777, mereka berkembang di daerah Monterado, Bengkayang, bekerja di pertambangan emas illegal dan membuat perkampungan khusus etnis Tionghoa.

Suatu hari perkampungan mereka terserang wabah penyakit dan saat itu belum ada dokter yang bertugas disana, warga Tionghoa ini berobat ke tabib / dukun yang merupakan penduduk setempat yang berasal dari suku Dayak, yang mengadakan pengobatan dengan cara tradisional dan cara gaib. Mereka mengadakan ritual tolak bala bersama masyarakat Dayak setempat. Upacara tersebut dilakukan pada hari ke 15 (dialek Hok Kian : Cap Go) di bulan 1 pada penanggalan/kalender China.

Karena dirasakan manfaat dari ritual tolak bala dan wabah penyakit bisa diatasi hingga mereka sembuh, akhirnya ritual ini dijadikan sebagai tradisi tahunan/turun temurun yang dilestarikan sampai saat ini dan ditampilkan pada perayaan tahun baru Imlek yang mereka namakan Cap Go Meh, yang berarti malam ke 15 (Cap Go berarti 15, Meh artinya malam), dan juga merupakan penutup dari rangkaian perayaan tahun baru Imlek.

Jaman dahulu perayaan ini tidak diijinkan oleh pemerintah Orde Lama dan Orde Baru pada saat itu. Karena merupakan tradisi dari etnis Tionghoa, mereka hanya mengadakan acara di lingkungan Kelenteng tempat mereka beribadah. Sejak tahun 2003 di era reformasi, perayaan ini diijinkan tampil ke jalan-jalan berkeliling membersihkan kota dan desa dari hal-hal negatif dan roh-roh jahat, tradisi ini sekarang bukan hanya milik etnis tionghoa dikarenakan banyak tatung/louya yang berasal dari suku Dayak.

Tradisi ini bertujuan sebagai ungkapan rasa syukur kepada sang pencipta, atas berkah dan rejeki yang di dapat. Sekaligus juga harapan agar di tahun berikutnya memperoleh hal-hal dan hasil yang lebih baik. Sedangkan maksud dari tradisi ini adalah untuk mengusir atau menangkal gangguan dari roh-roh jahat. Pengusiran roh-roh jahat ini disimbolkan dalam pertunjukan tatung/louya, atraksi ini dilakukan dengan cara mistik dan spiritual.

Walau Cap Go Meh berarti malam ke 15, tetapi puncak perayaan ini dilaksanakan pada hari ke 15, di Kalimantan Barat perayaan ini secara besar-besaran dilaksanakan di 2 kota. Kota Pontianak menyelenggarakan atraksi Naga, sementara atraksi Tatung/louya di Kota Singkawang.

Rangkaian acara ini berlangsung sangat meriah, karena hanya di Kalimantan Barat lah acara ini dilaksanakan secara besar-besaran, bahkan sampai mengalahkan meriahnya perayaan tahun baru Imlek di negara leluhurnya sendiri.

Banyak wisatawan lokal dan mancanegara  yang datang untuk melihat secara langsung tradisi ini setiap tahunnya, karena sudah masuk dalam kegiatan tahunan dari Dinas Pariwisata Kalimantan Barat, yang sudah pasti menambah pendapatan bagi masyarakat dan daerah.

Datang dan kenalilah kekayaan alam dan budaya yang ada di Kalimantan Barat”

Subscribe in Youtube      : Boy Bidayuh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *