Bumi Tambun Bungai yang Terkesan Ditinggalkan

Bagian 1 : 2 : 3 : 4

Setiba di Tumbang Anoi, tampak peserta Tapak Tilas sudah banyak yang datang, mengelilingi rumah Betang Damang Batu yang diresmikan pada 15 Januari 2005 oleh Gubernur Kalimantan Tengah saat itu, Drs Asmawi Agani.

Jalan raya semakin sempit karena menjadi tempat parkir puluhan mobil bernomor plat tak hanya KH dari Kalteng, tapi justru didominasi mobil berplat KB (Kalimantan Barat), dan beberapa berplat KT (Kalimantan Timur) dan DA (Kalimantan Selatan).

“Peserta paling banyak datang dari Kalbar, jumlah lebih dari 700 orang,”ujar Alexander Putra, putra Dayak Bidayuh – Mualang yang datang dari Kabupaten Sekadau, Kalbar.

Alexander Putra bersama romongandari kabupaten Sekadau, Kalbar

Puput, demikian anak muda yang bekerja sebagai petugas honorer di Disdukcapil Sekadau ini 2 hari, bersama rombongannya, bermobil melintas jalan Trans Kalimantan dari Sekadau ke Palangkaraya. “Jadi 2 hari Sekadau – Palangkaraya, ditambah 6 jam dari Palangka Raya ke Tumbang Anoi.

Berbagai acara kesenian Dayak, tari, lagu, pantun dipersembahkan insan-insan Dayak, sambil menanti kedatangan gubernur Kalteng, Sugianto Sabran.

Christina Lomon Lyons bersama rekan FIDN, GNiel di pesta rakyat di Tumbang Anoi

Petinggi-petinggi Dayak, seperti Bupati Kabupaten Lamandau Hendra Lesmana, Bupati Sanggau Paolus Hadi beserta wakilnya, Yohanes Ontot, menanti dengan sabar di rumah kepala desa Tumbang Anoi. Tampak juga di sana, Thadeus Yus tooh akademis Universitas Tanjung Pura Pontianak, Lawadi Nusah mewakili Forum Dayak Kalbar Jakarta (FDKJ), Edy Gunawan Ketua DAD Kaltim, dan Lumbis , tokoh dari Kaltara, dan Kebing, Ketua DPRD Prov Kalbar.

Dari kiri Desy Frades, Sutan Passer, Imanuel dan Theresia Hosana, Sekjen DPP FIDN

Orang nomor satu di Kalteng, putra Dayak Seruyan itu kemudian tiba dengan helicopter. Mungkin waktunya padat, sehingga enggan “berjibaku” melintas jalan tanah berbatu sepanjang Kuala Kurun – Tumbang Anoi. Turut bersama pak gubernur, Sekjen Majelis Adat Dayak Nasional (MADN), Yakobus Kumis, putra Dayak Kenayant, Kalbar.

Pesta Rakyat di Tumbang Anoi ini dimanfaatkan warga Dayak berjualan makanan dan aksesoris Dayak. Lapak baju dan aksesoris Dayak produksi Ping Ndjuk tampak paling laris diserbu peserta. Semua ingin memeriahkan pesta rakyat dengan berbalut busana Dayak yang dominan dengan warna merah itu.

Stand Ping Ndjuk, yang menjual aneka kerajinan anyaman manik khas Kalimantan, diserbu pembeli di Tumbang Anoi
Tapak Tlas Tumbang Anoi 22 Juli – 24 Juli 2019 menyatukan Dayak dari provinsi di Kalimantan, juga dari Sarawak.

“Saya ikut rombongan mobil bang Philip ini, dari Pontianak hingga bisa sampai ke Tumbang Anoi ini,”ujar pemiliki Ping Ndjuk, pusat kerajinan anyaman manik khas Kalimantan, yang memiliki work shop di Jalan Pangeran Nata Kusuma, Pontianak, ibu kota Kalbar.

Urungnya Seminar Internasional di Damang Batu

Di tengah acara, kami sempat bertemu dengan Agus Clarus, Secretary General of Borneo Dayak Forum (BDF), sekaligus salah satu Ketua panitia acara Napak Tilas Tumbang Anoi ini. Ia menegaskan agar Dayakdreams.com tidak meninggalkan kesempatan mengikuti Seminar Internasional yang akan digelar di Gedung Damang Batu, Kuala Kurun, Ibukota Kabupaten Gunung Mas.

“Wah, kami bisa wawancara dengan AtamaKatama , duta besar Dayak di PBB itu nanti,”ujarku.

Sayang sekali, bung Andrew A Mudi, nama lengkap putra Dayak Sarawak yang dipercaya sebagai Dayak Ambassador itu tak hadir dalam acara besar ini.

Andrew AtamaKatama, Duta Dayak di PBB, urung hadir di Tumbang Anoi

“AtamaKatama masih di New York,USA,” kata Agus Clarus.

Padahal Andrew juga sempat memastikan akan datang di Tumbang Anoi, di WA nya pada Dayakdreams.com, medio Juni 2019.

“I visit Pontianak early July and visit Tumbang Anoi. Then to New York,” tulis AtamaKatama di WA.

Agus Clarus, Sekjen Borneo Dayak Forum bersama Christo Lomon dan lainnya dari Persaudaraan Dayak Serumpun di Balai Karangan, Kab Sanggau, Kalbar

Dalam daftar acara pun, tertera AtamaKatama akan menjadi salah satu pembicara dalam seminar di Tumbang Anoi ini.

Kekecewaan tak hanya sampai di sini. Sebagian peserta kemudian kembali ke penginapan yang tersebar di Kuala Kurun, untuk bersiap menghadiri acara seminar pada Selasa 22/7.

Namun apa lancung, ternyata panitia seminar tiba-tiba mengubah rencana dan menggelar acaranya di Tumbang Anoi.

Christina Lomon Lyons bersama Bupati Ketapang Martin Rantan dan romobongan Kabupaten Ketapang di depan Hotel Adelin, Kuala Kurun, Kab Gunung Mas, Kalteng 23 Juli 2019

“Kami pun baru mendapat kabar pembatalan seminar di Kuala Kurun dan pindah di Tumbang Anoi, pagi ini. Karena menyangkut jarak tempuh dan waktu, kami jadi tidak bisa kembali ke Tumbang Anoi. Ya terpaksa har ini juga kembali ke Palangka Raya, sebelum kembali ke Ketapang,” ujar Bupati Ketapang, Martin Rantan, putra Dayak Tumbang Titi, saat sedang bersiap kembali ke Palangka Raya di lobi hotel Adelin, tempat ia dan rombongannya menginap di Kuala Kurun.

Seminar di Tumbang Anoi itu sendiri dipimpin oleh Awin Usup, dosen pengajar di Universitas Palang Raya. Ia kemudian mengirim Rumusan Hasil Seminar dan Napak Tilas Tumbang Anoi 2019 kepada Dayakdreams.com. (Baca juga : Kebenaran Tentang Seminar Tumbang Anoi 2019).

“Mudah-mudahan di tahun depan, jika FIND dan ahli waris Tumbang Anoi, serta seluruh komponen dapat berjalan bersama , event Annual Tumbang Anoi 2020, dapat dilaksanakan lebih baik,” ujar Oskaår, juga dosen di UPR.

Christina Lomon Lyons bersama Yossita Aswin, dosen di Universitas Palangka Raya

Kami pun kembali ke Palangka Raya. Menikmati ketenangan kota, di penginapan sederhana di tepi Sungai Kahayan. Meninggalkan Tumbang Anoi, Gunung Mas yang terkesan masih jauh tertinggal, atau mungkin memang ditinggalkan oleh kaum cendekianya yang memilih merantau ke pulau seberang bahkan luar negeri.

Gubernur Kalteng, Sugianto Sabran bersama Rektor Universitas Palangka Raya, bersama tokoh-tokoh Ormas Dayak dii Kalteng

Indonesia sudah 74 tahun merdeka. Selayaknya Kalimantan Tengah yang telah melahirkan banyak intelektual ini, bisa bergerak cepat pula roda pembangunannya. Jika di Pulau Jawa dan Sumatera, sebagian warganya kerap nyinyir berucap “makan tuh infrastruktur!”, maka sebaliknya, di pelosok Kalimantan sangat butuh ‘makanan infrastruktur’ ini. <<

Bagian 1 : 2 : 3 : 4

Bersama Nikodimus dari Persaudaraan Dayak Serumpun, yang membawa delegasi dari Sarawak ke Tumbang Anoi
Peserta Tumbang Anoi alami pecah ban mobil, di tengah jalan yang terjal dan berlubang
Sultan Passer dan Karlina Damirie, bersama Ketua Wantimpres RI, Sri Adiningsih, sekembali dari Tumbang Anoi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *