Damn ! Suku Dayak Tak Dianggap di Kota Pontianak

Dinas Kominfo (Komunikasi dan Informasi) Kota Pontianak, merilis data kependudukan pada 9 September 2019 yang sempat menjadi viral di dunia maya. Di dalam data kependudukan tersebut, tidak dicantumkan Suku Dayak sebagai salah satu penduduk yang berdomisili di Kota Pontianak, Kalimantan Barat.

Ini adalah bagaimana kebanyakan orang Dayak bereaksi ketika diberitahu bahwa mereka tidak ada!!

Tertera di sana suku Melayu : 51,24 %, Tionghoa : 26,05 %, Bugis 15,2 %, Jawa 11,67 %, Madura 7,85% da Lainnya 10,57%. Oh…Dayak itu disebut “Lainnya” ya?

Namun, setelah ditelusuri Dinas Kominfo mengklarifikasi bahwa data tersebut adalah data kependudukan tahun 2012 yang tidak diperbaharui, sehingga data kependudukan tahun 2012 masih dikeluarkan di tahun 2019.

Dengan berkilah LUPA, sebagai dalih dari aparat Pemerintahan di Kota Pontianak dalam klarifikasi data, saat audiensi antara Walikota Pontianak Edi Rusdi Kamtono dengan Dewan Adat Dayak Kalimantan Barat, pada 28 September 2019, yang dihadiri unsur Aparat Keamanan, Tokoh Adat dan Agama serta Tokoh Pemuda di Kota Pontianak.

Wikipedia menceritakan kisah yang berbeda. Angka wiki akurat karena mereka tidak memiliki kepentingan politik di Pontianak.

Walau data yang dikeluarkan tersebut merupakan data tahun 2012, apakah mungkin Suku Dayak  pada tahun tersebut tidak ada yang tinggal di Kota Pontianak ?

Data tersebut mengindikasikan bahwa Suku Dayak sebagai penduduk asli di Pulau Kalimantan khususnya di Kalimantan Barat, tidak dianggap keberadaannya oleh aparat pemerintahan yang mayoritas diisi oleh para pendatang dari luar pulau Kalimantan.

Kejadian seperti ini harus menjadi pembelajaran serta memberikan kesadaran kepada masyarakat Suku Dayak, bahwa begitulah opini orang-orang luar terhadap Suku Dayak di perkotaan Kalimantan khususnya Kota Pontianak.

Dayak Beranak-pinak di Pontianak

Bagaimana mungkin Suku Dayak tak diakui keberadaannya di Pontianak. Di Ibukota provinsi Kalimantan Barat itu, sudah berdiri sebuah rumah Betang, rumah khas suku Dayak di jalan Sutoyo, sejak  berpuluh tahun lalu.

“Rumah Betang di Jl Sutoyo merupakan aset Pemprov Kalbar. Dibangun sekitar 1977, didesain oleh tokoh Dayak, Yacob Lomon, yang saat itu menjabat anggota DPRD Kalbar. Selama ini jumlah pengunjung signifikan, tetapi Rumah Betang itu kosong. Tak ada yang bisa ditunjukkan, sehingga pengunjung hanya berfoto dengan latar ornamen khas Dayak yang ada di tiang dan dinding,”demikian dikutip dari Kompas.com dalam artikel berjudul “Rumah Betang dengan Hutan Kecil”.

Yacob Lomon

Walaupun hanya sebuah imitasi, tetapi rumah Betang ini, cukup aktif dalam menampung aktivitas kaum muda dan sanggar seni Dayak.

Lalu, ada pula Rumah Radakng Kalimantan Barat yang terletak di Komplek Perkampungan Budaya. Jalan Sutan Syahrir, Kota Baru, Pontianak yang diresmikan oleh Gubernur Kalbar, Drs. Cornelis, MH, 2 Juli 2013.

Cornelis, adalah tokoh Dayak yang menjadi Gubernur Prov Kalbar selama 2 periode. Sebelumnya adalah Johanes Chrisostomus Oevaang Oeray, Gubernur Kalbar pertama dari kalangan Suku Dayak, yang menjabat pada periode 1960-1966.

Kini, gubernur Kalbar adalah H. Sutarmidji, S.H., M.Hum (periode 2018-2023

Karena dunia politik di Kalbar kini  dikuasai oleh orang-orang yang bukan insan Suku Dayak, sehingga dengan seenaknya mereka memperlakukan harga diri Suku Dayak, walaupun hal tersebut terjadi di Pulau Kalimantan yang merupakan Pulaunya Orang Dayak  <<

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *