Ensaid Panjang, Rumah Adat Dayak Desa di Kabupaten Sintang

Rumah Betang Ensaid Panjang berjarak sekitar 60 kilometer dari Kota Sintang dan sekitar 380 km dari Kota Pontianak, ibukota Kalimantan Barat, berada di Kecamatan Kelam Permai, Kabupaten Sintang

Berlatar belakang Gunung Rentap, rumah adat ini masih berdiri dengan kokoh. Masyarakat sub suku Dayak Desa di Ensaid Panjang, hingga kini masih mempertahankan tradisi turun-temurun tinggal di rumah betang.

Arsitekturnya yang sederhana dengan nuansa dekat dengan alam, dengan panjang bangunan 118 meter dan lebar 17 meter, rumah adat berbentuk panggung ini memiliki tinggi sekitar 12 meter, dengan jarak lantai kayu dari tanah sekitar 2 meter, di tempati oleh 22 kepala keluarga.

Seperti umumnya rumah betang milik masyarakat adat Dayak di Kalimantan Barat, Rumah Betang Ensaid Panjang terdiri dari beberapa bagian.

Bagian paling depan disebut ruai, merupakan ruang bersama tanpa sekat di sepanjang rumah betang, ruang ini biasa digunakan untuk rapat bersama atau menerima tamu adat.

Bagian tengah dalam bahasa setempat disebut sebagai bilik baruah, merupakan ruang tamu dan ruang keluarga.

Ruai dan bilik baruah dipisahkan oleh telok, yakni semacam selasar yang lantainya lebih rendah dibandingkan ruai dan bilik baruah, berfungsi sebagai tempat menyimpan berbagai perkakas seperti lesung penumbuk padi dan peralatan menenun.

Ruang antar keluarga dipisahkan oleh papan kayu, bilik serambi merupakan kamar tidur dan bilik tingka yang menjadi bagian terakhir berfungsi sebagai dapur.

Wisatawan yang berkunjung bisa tinggal di Rumah Betang Ensaid Panjang dan merasakan keseharian warga adat Dayak Desa, pengurus adat tidak menetapkan tarif bagi wisatawan yang ingin tinggal di rumah betang.

”Kami tidak memiliki budaya memungut bayaran, sampai saat ini tradisi itu masih kami jaga,” ujar Hermanus Bintang, tetua adat Dayak Desa.

Hermanus Bintang

Di Rumah betang ini, wisatawan masih bisa melihat proses pembuatan kain tenun secara tradisional yang dilakukan masyarakat, mereka mewarisi kemampuan dari nenek moyangnya. Sejumlah wanirta paruh baya hingga kini masih aktif menenun. Menenun merupakan pekerjaan sampingan kaum wanita di rumah betang ini, selain berladang dan menyadap getah karet sebagai pekerjaan utama mereka.

Kehangatan dari warga rumah betang dalam menyambut tamu itulah yang menjadi daya tarik bagi wisatawan lokal maupun mancanegara. Banyak wisatawan dan peneliti dari luar negeri yang tinggal lama di rumah betang untuk mengikuti keseharian masyarakat adat.

 

SHARE THIS PAGE

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *