Kapal Bandong, Kenangan Tak Terlupakan

Siang itu suasana dermaga di Kapuas Indah, Jalan Sultan Muhammad, Kota Pontianak, tampak seperti biasanya. Riuh dengan duara bising dari mesin kapal motor, yang hilir mudik mengantar penumpang dari dermaga ke seberang sungai.

Beberapa kapal kayu berukuran besar, berjajar dengan rapi di pinggiran sungai, menunggu muatan barang. Tampak sekelompok pekerja, sibuk dengan kegiatannya memindahkan berbagai macam barang. Mulai dari bahan makanan, keperluan rumah tangga, bahan bangunan, dan alat-alat pertanian, dari sebuah truk ke bagian lambung kapal (palka).

Kapal Bandong, demikian sebutan masyarakat Kalimantan Barat untuk kapal ini. Kapal yang terbuat dari kayu, dengan panjang sekitar 20 meter, dan lebar 12 meter, dirancang sedemikian rupa. Diberi atap. sehingga menyerupai rumah terapung.

Ada tiga bagian di kapal ini. Bagian depan digunakan sebagai ruang kemudi. Bagian tengah digunakan sebagai tempat menyimpan barang bawaan, dan tempat istirahat yang disertai dengan bilik-bilik kamar. Sedangkan bagian belakang digunakan untuk dapur dan toilet, serta dilengkapi dengan mesin diesel sebagai tenaga pendorong.

Di era 1970-an kapal bandong ini pernah menapaki puncak kejayaannya di sepanjang aliran sungai Kapuas. Orang maupun barang, diangkut menggunakan kapal ini menyusuri sungai Kapuas yang merupakan sungai terpanjang di Indonesia. Mulai dari Kota Pontianak hingga ke daerah-daerah pedalaman di Kabupaten Sanggau, hingga Kapuas Hulu, dikarenakan pada saat itu akses jalan dan angkutan darat belum memadai serta masih sangat langka.

Untuk sampai ke tempat pemberhentian terakhir, di Kecamatan Jongkong Kabupaten Kapuas Hulu, memerlukan waktu hingga tujuh hari. Pasalnya kapal Bandong ini harus singgah di beberapa tempat dan daerah untuk mengantar dan menurunkan barang.

“Normalnya sih satu minggu, tapi kami tidak bisa jamin, karena kami harus singgah ke beberapa daerah untuk bongkar muat barang,” kata Apai, juru mudi Kapal Bandong.

Kini seiring dengan perkembangan jaman, serta semakin membaiknya akses jalan dan sarana transportasi darat di Kalimantan Barat, Kapal Bandong mulai ditinggalkan dan menjadi langka. Sebagai perbandingan, jarak Pontianak – Putussibau sejauh kira-kira 780 kilometer jika dilewati melalui jalan darat menggunakan bus, dapat ditempuh dalam waktu 10 jam. Namun jika menggunakan Kapal Bandong memerlukan waktu hingga 7 hari.

Namun jenis transportasi air ini, tetap dipilih masyarakat-masyarakat pedalaman di pinggiran sungai untuk mengangkut barang-barang berbagai macam kebutuhan rumah tangga.

“Jika dulu kapal Bandong ini adalah kapal penumpang dan barang, tapi sekarang hanya menjadi kapal barang saja. Karena sudah jarang penumpang yang mau naik kapal ini lagi,” tutur Apai.

Tentunya menjadi hal yang menarik, jika Kapal Bandong sekarang dikemas sedemikian rupa, dan bisa menjadi andalan wisata di Kalimantan Barat. Terbayang pengalaman-pengalaman menarik yang akan didapat para wisatawan, dengan naik kapal ini menyusuri panjangnya Sungai Kapuas. Menikmati pemandangan di sepanjang sungai, bermalam dikampung-kampung sepanjang tepian sungai, sambil memancing dan memakan ikan. Hmmm, semoga Kapal Bandong tetap lestari…

2 Replies to “Kapal Bandong, Kenangan Tak Terlupakan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *