Amji Berlindung di Balik Perahu di Perairan Irian

Amji Atak Series: Episode 6

Pasukan Menpor  terciduk kapal penjelajah Belanda, saat hampir mendarat di perairan Fak-Fak, Irian Barat, medio Mei 1962. Saat jarak antara perahu yang ditumpangi anggota Detasemen Pelopor dengan kapal-kapal Belanda diperkirakan sekitar 300 meter, pihak Belanda memberikan tembakan peringatan agar menyerah. Semula anggota Menpor berniat akan membalas dengan tembakan AR 15 beserta granat ATS. Namun niat itu diurungkan, mengingat kekuatan yang tidak seimbang.

Amji Atak, with fellow Brimob fighters in Jakarta

Maka, jalan yang dipilih adalah dengan membuang semua dokumen yang dibawa. Sementara persenjataan dan amunisi belum sempat dibuang, karena jumlahnya cukup banyak dan dalam posisi terikat menjadi satu.  Dalam situasi demikian, maka dengan mudah pihak Belanda menangkap dan menawan para anggota Menpor.

See all: Amji Atak Episodes

Semula anggota Menpor yang tertangkap ini dibawa ke Sorong, kemudian dipindahkan ke Holandia, lalu ke pulau Wundi. Di sana para anggota Menpor ditawan bersama-sama dengan pasukan RPKAD (Resimen Para Komando Angkatan Darat), Brawijaya dan Diponegoro yang sebelumnnya sudah tertangkap. Tertangkapnya pasukan Menpor pada percobaan penyusupan kedua ini, diketahui dari siaran radio Biak, Irian Barat yang menyiarkan berita tersebut.

Original battle plan for Operation Trikora

Tercatat 20 orang anggota Menpor, Brimob dan sukarelawan yang ditawan Belanda saat itu. Namun di antara ke-20 nama itu, tak tertera nama Amji Attak.

“Amji hampir dijemput maut ketika bertempur di Irian Barat, dalam operasi Trikora, pembebasan Irian Barat pas tahun 1962. Ketika diserang tentara Belanda, Amji membalikkan perahu yang ditumpanginya, untuk tempat bersembunyi dari musuh di perairan Irian itu,” tutur seorang kerabat Amji bernama Arsani  kepada Dayakdreams.com.

Amji’s nephew, Arsani

Arsani mengaku mendapat cerita ini dari rekan Amji, Kapten Pol (purn) Hasan seorang polisi AIRUD , pada masa itu.

“Amji dan Hasan ini pernah sama-sama bertugas di Kota Baru, sekarang kabupaten Melawi, Kalimantan Barat,” ujar Arsani.

Kisah Amji menyelam dan berlindung di balik perahu di perairan Fak-fak ini, juga diungkap salah satu sahabat Amji yang pernah sama-sama bertugas di kepolisian Daerah Kalimantan Barat di Pontianak. Namanya, Jules Nussy, pensiun dengan pangkat Kapten Polisi purnawirawan.

Best friends: Police captain Jules Nussy (now retired), and close friend Amji Atak

“Dari kisah yang saya dengar saat kumpul-kumpul dengan rekan sesama polisi, sebelum ikut Dwikora, Amji Attak juga ikut Trikora. Amji sempat dianggap hilang untuk sekian hari, hingga tiba-tiba ia muncul dan membawa pasukan menyerang Belanda di Irian,”tutur Julues Nussy saat dikunjungi di rumahnya yang sederhana di kawasan Sungai Jawi, Pontiannak.

Julues Nussy came to tears when we showed him a photo of Amji. So did everyone in the room.

Kisah heroik Amji di perairan Irian itu, juga didengar Nussy dari Anton Soejarwo, saat Anton menjadi  Komandan Komando Daerah Kepolisian (Kodak), kini Polda Kalimantan Barat pada tahun 1974.

“Saat kami diajak nongkrong-nongkrong dengan Anton Soejarwo, beliau berkomentar tentang sosok Amji Attak. Jenderal Anton itu bilang begini, itu Dayak Pontianak (Amji Attak) hebat. Waktu Trikora, kita kira dia sudah mati..eh…tahu-tahu muncul bawa pasukan penduduk asli Irian,” Nussy mengulang ucapan Anton Soejarwo yang memerintahkan  Detasemen Pelopor Korps Brimob, untuk melakukan kembali percobaan pendaratan kedua di Fak-Fak, pada 13 Mei 1962.  <<

See all: Amji Atak Episodes

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *