Amji di Mata Keluarga Besar Atak

Patung Amji Attak sudah bertengger gagah di depan Mako Bromob Sumarto di Jalan Adisucipto, Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Tak jauh dari sana, ada Gang Siaga, dimana rumah Ny Sudarti, salah satu keponakan Amji Attak berada.

Demi menyusuri sejarah jejak kehidupan Amji Attak, dari rumah Sudarti, kami diajak ke Anjongan,untuk menemui keluarga besar Atak, dimana sanak kerabat terdekat Ambil Attak berdiam.

Following our interview with Amji’s neice, Sudarti and son in law, Michael, We began our trek to find Amji’s past.

Menyewa sebuah mobil, kami meninggalkan Gang Siaga, melitasi jembatan yang Melinda sungai Kapuas , kemudian jembatan lain yang melintasi sungai Landak. Setelah melewati Tuga Khatulistiwa di Siantan, Pontianak Utara, kami masuk Kabupaten Mempawah. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 2.707,88 km2 dan berpenduduk sekitar 301.715 jiwa.

Anjongan, sebuah kecamatan di Mempawah, merupakan pemekaran dari Kecamatan Sungai Pinyuh. Kecamata Anjongan, adalah kawasan pegunungan nan sejuk, berbeda 360 derajat degan pontaiannk yang super Hot karena dilintasi garis Khatulistiwa. Dengan luas wilayah 175,50m km2, Anjongan terdiri dari 5 desa/dusun, jumlah penduduknya 22.312 jiwa. Warga kecamatan Anjongan umumnya berwiraswasta, karena wilayah ini merupakan kawasan persinggahan bagi pendatang yang berkeunjung ke Kalimantan Barat.

Meet some of Amji’s nephews: fabianus toto, husni osnata, Subianto, urwanto (tarahan), andreas mitro (olon)

Keluarga besar Atak di Anjongan, sangat antusias menerima kedatangan Dayakdreams.com. Kerinduan mereka untuk mengangkat nama Amji begitu besar.

Setelah lebih dari satu dekade, setelah Amji Attak gugur di medan tempur, keluarga Amji diundang datang ke Ksatrian Brimob Kelapa Dua Depok, Jawa Barat. Husni Osnata  yang membawa pulang barang-barang peninggalan Amji Attak dari Mako Brimob Kelapa Dua ke desa Kepayang, kampung halaman Amji Attak.

The scenery made me wonder what is was like for Amji growing up in this area.

“Waktu itu tahun 1979, keluarga diterima anggota Brimob bernama Sersan Suparman yang kemudian menyerahkan sebuah peti berisikan barang-barang milik Ipda Amji Atak. Sayang sekali, barang itu tak terpelihara, tercerai berai dan tak berbekas,”tutur Husni Osata, keponakan Amji Attak, saat menerima Dayakdreams.com di rumahnya di desa kepayang, Anjongan.

Di ruang tamu rumah Husni yang semi permanen, tak terlalu besar namun bersih di dusun Peladis, 2 km sebelum mencapai dusun Kepayang itu, satu per satu anggota keluarga berbagi cerita tentang paman mereka, Amji yang gugur di Selat Malaka, dalam usia muda, 32 tahun.

Direkrut Masuk ABRI di Usia Remaja

Amji Attak masih belia ketika mendaftar menjadi polisi di Mempawah, yang berjarak 13,3 km dari kampung Kepayang.

“Tahun 1946 itu,pemuda-pemudi direkrut untuk menjadi anggota ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia). Masa itu kan aman Nika, peralihan Belanda-Indonesia. Maka Amji masuk polisi pas tahun 1949,” tutur Arsani, keponnnakan Amji yang lain.

Nature’s beauty is evident in in this area of West Kalimantan

Amji seangkatan dengan Josef Rofinus Djamin, ayahanda dari Cornelis, gubernur Kalimantan Barat 2 periode, 2008-2018.

Ayah Arsani bernama Amran Salim, yang bersaudara sepupu dengan Amji.

“Nenek saya dan Neneknya Amji itu saudara kandung. Nenek Amji namanya Saleh, nenek saya namanya Salim. Adik-adiknya bernama Saad, Said, Saed, nama-nama bernuannsa Melayu. Karena kawasan Anjongan inikan dekat degan Kerajaan Mempawah,”ungkap Arsani.

The next part of our search was to find burial sites of Amji’s parents and other relatives. Off we go…

Ia bercerita Amji pertama kali bertugas di Polres (kepolisian Resort) di Ngabang (kini kabupaten Landak) tahun 1949. Bertugas di Ngabang itu selama beberapa tahun. Setelah itu Amji pernah bertugas di Nanga Pinoh, Kota Baru, perbatasan Kalimantan Barat dan Kaliantan Tengah. Setelah itu, Amji kemudian pindah tugas ke MB (Mobil Brigade) Mobrig di Pontianak, Ibu Kota Kalimantan Barat.

“Ada beberapa putra Dayak di Mobrig, seangkatan paman Amji. Di antaranya pak Yohannes dan Linku. Mereka kemudian bertugas di Singkawang dan Ketapang,”tutur Arsani.

We consider ourselves fortunate to meet this amazing family. We will never forget you.

Orang tua Arsani, Amran Sali, seorang petugas medis yang biasa dijuluki Pak Mantri Suntik di kantor Dinas Kesehatan di Ngabang pada tahun 1949 itu. Dan Amji saat dekat dengan keluarga Arsani ini.

“Saat paman Amji bertugas di Ngabang, saya berusia 3 tahun,”ujarnya. Pria keahirna tahun 1946 ini masih ingat, Pam Amji sering menjewer telinganya jika bandel. <<

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *