Gudang Pengap Pencetak Ranger Tangguh

Amji Atak Series: Episode 18

Pada Dayakdreams.com, Irjen Pol Soetrisno Ilham berbagi cerita, pengalamannya menjalankan pendidikan Ranger di Watukosek, bersama Amji Attak.

See all: Amji Atak Episodes

Soetrisno Ilham mengungkap, berawal dari ajakan sahabatnya, Antonn Soedjarwo untuk ikut mendaftar pendidikan Mobile Reserse di Watukosek. Seperti ditulis pada  buku Biografi Anton Soedjarwo, Anton yang saat itu berpangkat Inspektur Polisi 1, bersahabat dengan IP I Arismunandar. Anton dan Arismunandar ini, ketika itu menjadi Ajudan Kepala Kepolisian Negara (KKN), Jenderal Soekanto.

Ketika  Anton masih menjadiajudan KKN, Arismunandar  telah lebih dulu berhenti dan memasuki Korps Mobile Brigade (Mobrig). Jabatannya, Wakil Komandan Kompi Korps Lapis Baja. Sebulan kemudian, Arismunandar diikutsertakan dalam latihan Mobile Reserse di Watukosek Porong.

Pelatihan ini merupakan embrionya pelatihan Ranger. Karena latihannya demikian berat, membuat  tubuh Arismunandar berotot, perutnya mengecil, dada membusung dan badan lebih tegap.

Maka, saat cuti Anton mengunjungi Arismunandar di Watukosek. Melihat tubuh Arismunandar yang sixpack, iapun terkagum-kagum. Tak henti-hentinya ia memuji penampilan sahabatnya yang tambah macho itu. Kembali ke Jakarta, ia minta pendapat teman sejawatnya, Soetrisno Ilham untuk masuk Mobile Brigade. Gayung bersabut.

Anton dan Soetrisno, sama-sama alumnus Pendidikan Inspektur Polisi ABCDE. Ketika bertemu Arismunadar saat  mengikuti ujian masuk Perguruann Tinggi Ilmu Kepolisian, keduanya menyampaikan niatnya untuk menjadi anggota Mobrig.

Arismunandar kemudian mengajak Anton dan Soetrisno ke markas Mobrig di Jalan Tanah Abang, menemui Komisaris Besar Polisi Soetjipto Yudodihardjo, Wakil Kepala Mobrig. Kedua Perwira itu diterima dan akan segera dikirim ke SPMB di Porong, Jawa Timur, untuk mengikuti pendidikan Ranger Angkatan kedua.

Di sekolah Ranger, para siswa ditempatkan di 2 barak. Setiap barak dibentuk peleton siswa, peleton A dan peleton B. Tempat pondokan itu berupa gudang, memang bekas gudang sebuah pabrik gula, tidak ada jendela, yang ada hanya 4 pintu besar,  ada di tengah-tengah, dan di ujung kiri dan kanan barak. Dapat dibayangkan bagaimana pengapnya pondokan seperti ini.

Ketika memasuki baraknya, di dalamnya telah hadir para Tamtama calon siswa Ranger. Suasana sangat hiruk-pikuk, para siswa  berteriak ke-teriak kencang, berbicara seenaknya.

Udara panas menyeruak di barak, banyak siswa yang hanya berbalut kaus singlet dan celana kolor, bergelimpangan di matras masing-masing. Amji Attak ada di antara mereka. Begitulah pemandangan pertama yang disaksikan Soetrisno Ilham saat  pertama kali bergabung di Sekolah calon Ranger di Watukosek, Jawa Timur.

Biarkan saja mereka berteriak-teriak semaunya.

Setelah ditunjukkan peruntukan tempat tidur masing-masing, badan penat memerlukan istirahat, Anton dan Soetriso merebahkan tubuhnya. Namun kegaduhan para Tamtama tak juga mereda. Soetrisno sempat menutup kupingnya, kesal. Anton membisikinya untuk rileks.

“Tris, kamu jangan emosional dan jangan tegur mereka. Biarkan saja mereka berteriak-teriak semaunya. Nanti mereka juga tahu siapa kita. Oleh karena itu, kita harus berusaha seoptimal mungkin untuk menunnjukkan bahwa kemampuan dan keuletan kita lebih dari mereka, setidaknya sama,”tutur Soetrisno.

Berbagai latihan mereka jalani bersama. Seperti latihan perembesan melalui sungai kecil yang letaknya berada di belakang asrama Brimob Watukosek. Seluruh tubuh kecuali kepala dan ujung laras senapan harus di dalam air. Sementara tangan kiri dipakai untuk merayap di dalam air.

Juga latihan Truck jumping. Pada hari pertama kecepatan jalan truk perlahan-lahan. Hari berikutnya kecepatan bertambah sampai 35 km per jam. Siswa berlari terhuyug-huyug sambil membawa ransel dan senapan Lee Enfield yang panjang dan berat itu. Bukan pemandangan aneh melihat para siswa setiap kali melompat, terjatuh, tepi cepat bangun dan kembali lari tanpa  mengeluh.

Ada juga ujian Push Up, minimal harus dapat melakukan 5 kali, baru dianggap lulus. Soetrisno setia menemani Anton latihan jus uap tengah malam.

“Watukosek itu tempat latihan yang berat. Dulu kita makan di tenda. Jam 5 pagi sudah olahraga lari. Ranger itu ke mana-mana harus berlari. Mau makan lari, habis makan lari lagi. Sampai di asrama harus cepat mandi dan beres-beres, setelah itu istrihat sebentar dan latihan lagi.Dari barak ke tempat latihan lari lagi,” kenang  Soetriso yang saat itu berusia 30 tahun, dan sudah memiliki 2 putra yang ia tinggal di asrama Brimob Tanah Abang, Jakarta.

Setelah selesai dari latihan dasar, dari 150 siswa, hanya 98 orang yang lulus dan melanjutkan ke pelatihan di Watukosek. Dan dari 98 siswa itu, 3 orang gugur, 95 siswa termasuk Anton, Soetrisno dan Amji Attak lulus. Anton Soedjarwo kemudian menjadi Komandan Kompi 5995, Soetrisno Ilham menjadi Wakil Komandan Kompi. Anton selalu menunjuk Amji Attak menjadi anggota pasukannya dalam berbagai gerilya. <<

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *