Lepas dari Siksa Penjara di 17 Tahun Indonesia Merdeka

Amji Atak Series: Episode 8

See all: Amji Atak Episodes

Anggota Menpor sudah 3 bulan ditahan di pulau Wundi, Irian Barat. Hingga pada 15 Agustus 1962, dicapai persetujuan antara Repubik Indonesia dan Kerajaan Belanda mengenai Irian Barat. Menyusul pada September 1962 mendapat pengesahan dari Sidang Majelis Umum PBB. Maka Pasukan Belanda mulai ditarik mundur dari Fak-fak. Kemudian dibentuk UNTEA (United Nation Temporary Executive Authority), sebagai badan pemerintahan sementara Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) di Irian Barats.

On August 21, 1962, the “New York Agreement” was signed and hostilities between Indonesia and Netherlands ceased.

Sementara di dalam ruang tahanan, tepat pukul 12 malam menjelang hari kemerdekaan 17 Agustus 1962, semua tahanan bersorak-sorai. Ada yang bernyanyi, memukul barang apa saja yang menimbulkan suara bising dan gemuruh. Terdengar teriakan-teriakan,”Kita damai, kita aman, kita berkawan!”

Separuh malam nyaris dihabiskan dengan perbincangan, telah terjadi Cease Fire (gencatan senjata) antara Indonesia dan Belanda.

The agreement brokered by the U.S. was one of President Sukarno’s greatest diplomatic victories.

Pagi harinya, komandan kamp mengumpulkan tawanan dan menyatakan tak ada lagi permusuhan antara Belanda dan Indonesia. Para tahanan akan dikembalikan ke Jakarta. Seminggu kemudian, secara berangsur-angsur ex tawanan mulai diangkut dengan pesawat ke bandar udara Kemayoran Jakarta. Mereka kemudian dibawa ke Rumah Sakit untuk dikarantina dan menjalankan pemulihan kesehatan.

Seminggu kemudian, dilakukan upacara penyerahan ex tawanan dari pengawas ex tawanan kepada Dan Yon 1232 Menpor di halaman Rumah Sakit, dihadiri Dan Korps Brimob dan jajarannya.

Two days later, Netherlands turned over control of West Irian for good.

Sementara itu, seperti dikutip dari buku Resimen Pelopor : Pasukan Elit yang Terlupakan karya Anton Agus Setyawan dan Andi M Darlis, rombongan Detasemen Pelopor terakhir yang berada di Pulau Gorom, sedianya akan diberangkatkan ke medan pertempuran pada 18 Agustus 1962. Namun rencana itu urung karena pada 15 Agustus telah dicapai gencatan senjata antara Indonesia dan Belanda.Termasuk Amji Attak yang ikut Trikora dengan Kompi B yang dipimpin Anton Soedjarwo.

“Jadi saya yang tergabung di Kompi A, berhasil mendarat di Irian Barat. Amji Attak yang ikut Trikora dengan Kompi B, yang dipimpin Anton Soejarwo ini gagal mendarat di Irian Barat,”ungkap Kolonel Harjanto.

Soon, Indonesian prisoners would head for home as heroes.

Ada sekitar 14 orang anggota pelopor dan Brimob bagian kesehatan yang masih tertinggal, dipimpin oleh Dantim Agen Polisi Tk I Wagiyo. Saat masa penantian itu, pasukan di pulau Gorom ini terus berlatih sepanjang hari-hari. Tatkala mengetahui batal diberangkatkan, sungguh mereka merasakan penyesalan luar biasa, karena tidak mendapatkan kesempatan untuk terlibat dalam kontak senjata dengan Belanda. Alhasil, seluruh perlengkapan dan amunisi yang mereka bawa  tetap utuh karena tak sempat digunakan. Termasuk Amji Attak yang berhasil menyelamatkan diri dan kembali ke pulau Gorom, dibantu pasukan penduduk asli Irian, seperti diceritakan Anton Soedjarwo pada rekan-rekan Amji Attak di Pontianak, pada tahun 1974.

Pada September 1962, pasukan Pelopor yang ada di Pulau Gorom ini dijemput dengan kapal perang. Mereka dibawa ke Ambon, lanjut ke Makassar, kemudian dibawa ke Tansjung Priok, untuk kembali ke markas Kelapa Dua Depok.

Indonesian soldiers still training for invasion were disappointed they could not deploy and fight. Among them was Amji Atak.

Berikut nama 20 orang dari Detasemen Pelopor dan Brimob, serta sukarelawan yang pernah ditawan Belanda di Pulau Wundi, Irian Barat itu dan dibebaskan tepat di ulang tahun ke 17 Indonesia merdeka dari penjajahan:

  1. Ajun Inspektur II Sumarno (pensiun dengan pangkat Komisaris Polisi) dari Detasemen Pelopor
  2. Ajun Inspektur II Djoko Sugiyono dari Detasemen Pelopor
  3. Ajun Brigadir Soeharto dari Detasemen Pelopor
  4. Ajun Brigadir Kosi Sarkomi dari Detasemen Pelopor
  5. Ajun Brigadir MK Tempilang dari Detasemen Pelopor
  6. Ajun Brigadir Jhanes Mara dari Detasemen Pelopor
  7. Ajun Brigadir Josep Raga Tellu dari Detasemen Pelopor
  8. Ajun Brigadir A Kalakik dari Detasemen Pelopor
  9. Ajun Brigadir Ramelan dari Detasemen Pelopor
  10. Ajun Brigadir Sene dari Detaseen Pelopor
  11. Ajun Brigadir Ketut Pudja dari Detasemen Pelopor
  12. Abrp sukarana
  13. Agen Polisi Tk 1 Frans Tingogoy dari Detasemen Pelopor
  14. Brigadir Polisi Kliman sebagai petugas PHB (komunikasi) dari Brimob Kompi 5120
  15. Ajun Brigadir J Mare sebagai petugas PHB(komunikasi) dari Brimob Kompi 5120
  16. Agen Polisi Tk 1 Soerjanto sebagai petugas PHB (komunikasi) dari Brimob Kompi 5120
  17. Agen polisi 1 Slamet Hendrik
  18. Ajun Brigadir Polisi D Supit sebagai petugas kesehatan
  19. Ibrahim-sukarelawan, bertugas mengemudi perahu sekaligus pemandu
  20. Karim Rumidow, sukarelawan dan pemandu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *