Menpor Berlayar dengan Kapal Pengangkut Ternak

Amji Atak Series: Episode 4

Setelah selesai melaksanakan latihan tempur dan fisik, Resimen Team Pertempuran (RTP) 1 Korp Brigade Mobil, juga melakukan latihan survival pada Februari 1962, di pulau tanpa penghuni di Selat Sunda.  Penuh tetumbuhan lebat dan menjadi sarang nyamuk, diperkirakan memiliki kemiripan dengan medan di daratan Irian Barat. Beberapa hari anggota, termmsuk Amji Attak bergulat dengan kelaparan. Pasalnya Ranser (Ransum Rebuan) hanya cukup untuk satu atau dua hari.

See all: Amji Atak Episodes

Setelah dinilai siap, resimen bergabung dalam Operasi Mandala yang segera diberangkatkan ke Irian Barat. Bertepatan dengan Hari Raya Idul Fitri yang diwarnai hujan lebat, pada 8 Maret 1962, diiringi doa restu Presiden sebagai panglima Tertinggi Pembebasan Irian Barat, dilepaslah pemberangkatan pasukan oleh KKNR Soekarno Djojonagoro.

Komisaris Jenderal Polisi Raden Soekarno Djojonegoro

Komisaris Jenderal Polisi Raden Soekarno Djojonegoro, adalah Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia dari 15 Desember 1959 hingga 29 Desember 1963. Soekarno Djojonegoro kelahiran Banjarnegara, Jawa Tengah, tahun 1908 dan wafat di Jakarta pada tahun 1975.

“Selamat jalan dan laksanakan tugasmu dengan baik. Karena hari ini Hari Raya Idul Fitri, yang seharusnya hari baik ini Saudara-saudara guakan untuk halal bihalal dengan keluarga, tetapi karena tugas memanggil saudara, terpaksa saudara-saudara saya berangkatkan. Untuk itu, saya sebagai pimpinan Polri, minta maaf pada saudara-saudara sekalian. Karena kita lebih menitik-beratkan kepada tugas, daripada halal bihalal dengan keluarga,”ucap Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia saat itu.

Maka, dengan menggunakan Kapal Tomako milik Pelni, berangkatlah RTP 1 Korps Brimob ke medan tugas. Sasaran pertama adalah Kepulauan Maluku, daerah perbatasan atau daerah terdepan sebagai batu loncatan untuk mendarat di daerah Irian Barat.

Kapal Tomako yang biasanya digunakan untuk mengangkut ternak itu pun dikerahkan untuk mengangkut 1.200 orang anggota RTP 1. Tak heran jika kapasitas kapal tak memadai. Tak sanggup untuk mendistribusi air untuk mandi dan memasak. Terpaksalah para anggota baru bisa meenikmati makan pagi pukul 2 siang, dan makan berikutnya pukul 20.00 malam. Untuk mengatasi kesulitan itu, Danyon 1130 Kompol Tk II Yusuf Chusein Saputra memerintahkan anggotanya untuk bisa memasak sendiri.

Pasukan Nasi Putih dan Belajar Makan Sagu

Sebelum tiba di garis depan, RTP I singgah di Makassar untuk berkonsultasi dengan Panglima Mandala di Markas Komando Mandala. Dari Makassar, perjalanan dilanjutkan menuju Maluku dan tiba Ambon. Pasukan turun dari kapal dan melapor kepada Panglima Maluku sebagai penguasa Perang daerah. Saat itu sempat digelar pawai keliling kota Ambon.

Usai pawai, diatur dislokasi Pasukan RTP I. Mako RTP 1 yang awalnya berada di Ternate, atas perintah Operasi dari Pangdam XV, dipindahkan ke Kepulauan Ambon. Sementara Brimob Yon 1130 ditempatkan di Pulau Halmahera, sekitar Teluk Weda, dan di Pulau Gebe, dekat Pulau Gak, Kepulauan Saraswatu, Maluku Utara.

Brimob Yon 1129 dipimpin Kompol II Slamet Sadjoko, ditempatkan di Kepulauan Aru, di kota Dobo bagian barat, dan di Pulau Selaru, sebelah barat daya Pulau Aru, Maluku Selatan Tenggara.

Brimob Yon 411 dari Komandemen Brimob Daerah IV Jawa Timur, dipimpin AKP Muljo Hadjawinata ditempatkan di Amahai dan sekitarnya di kepulauan Seram, Maluku Tengah. Brimob Yon 308 dari Komandemen Vrimob Daerah III Jawa Tengah, dipimpin AKP Heru Pranoto ditempatkan di Kaeranta, juga Maluku Tengah.

Dan Detasemen Pelopor yang dipimpin Inspektur Polisi 1 Andi Abdurrachman, ditempatkan di Pulau Seram dan Pulau Gorom. Di sinilah Amji Attak bertugas.

Amji Atak

Di daerah-daerah jauh terpencil itu, berbulan-bulan anggota bergulat melawan berbagai kesukaran. Mulai dari kesulitan angkutan darat dan laut, minimnya sayur-mayur, praktis setiap anggota harus mengatasi nasib masing-masing, sementara mereka tetap harus bersiaga.

“Sulitnya menemukan sayur mayur, membuat anggota pun mutih, alias hanya makan nasi putih dengan garam,” tulis Danyon 1130 Brigjen Pol (P) Jusuf Chuseinsaputra dalam bukunya Peranan Polri dalam Trikora & Dwikora.

Detasemen Pelopor di Pulau Gorom pun tak kalah sulitnya. Namun mereka sebelumnya telah dilatih cara membuat sagu, mulai dari menebang pohon sampai siap untuk dimakan. Menpor juga dididik cara menggunakan kapal-kapal kecil, mengenal pasang-surut lautan, mengenal awal, angin dan bintang. Selain itu juga dilatih mempertinggi daya tahan (endurance) jasmani dan rohani (fisik dan mental).

Selain kegiatan tersebut, Menpor juga menjadi guru bagi warga dalam rangka pemberantasan buta huruf. Juga memberi penerangan pada warga setempat tentang pentingnya arti perjuangan pembebasan Irian Barat. Menpor juga melatih para sukarelawan dan menanamkan disiplin pada  siswa sekolah melalui olahraga, menyanyi dan latihan baris-berbaris. Tak ketinggalan mendidik warga tentang tata cara  <<

See all: Amji Atak Episodes

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *