Mesin Perang DWIKORA

In Memoriam GI Andeng

GI Andeng. Ia salah satu putra Dayak yang menjadi mesin perang dalam Operasi Dwikora tahun 1964-1965, konfrontasi dengan Malaysia. Jika dari Resimen Pelopor POLRI mencatat nama AMJI ATTAK, sebagai Pahlawan Dwikora, maka dari PGT tercatat ada 253 orang, diantaranya 24 pemuda Dayak yang diterjunkan dalam Operasi Dwikora ini.

Dari jumlah itu, 36 orang gugur di medan tempur, dan pulang hanya tinggal nama. Andeng salah satu dari anggota PGT yang selamat dan pulang bersama 500 sekian pasukan yang ditawan di Malaysia dan Singapura.

Beliau kelahiran 20 Oktober 1941, Kampung Tewang Pejangan, naik motor 20 menit dari Kuala Kurun, Kecamatan Kurun, Kabupaten Gunung Mas, Provinsi Kalimantan Tengah, Indonesia. Dan wafat di rumahnya di Bekasi, Jawa barat, pada Minggu, 27 Juni 2021.

Watch Video

Sebelum wabah pandemi Covid 19 merebak tahun 2020, Dayakdreams.com sempat bertandang ke rumah Beliau untuk menyerahkan buku Amji Attak, Ranger Andalan Jenderal Anton Soedjarwo, dimana Beliau menjadi salah satu narasumber. Pak Andeng kemudian bercerita tentang perjuangannya sebagai anggota Pasukan Gerak Tjepat TNI Angkatan Udara, yang menjadi salah satu mesin perang dalam Operasi Dwikora, Ganyang Malaysia.

Terjun Payung Mendarat di Markas Polisi Malaya

Langit gulita di atas hutan lindung Kampung Redung, Desa Tenang, Distrik Labis , lewat jam 12 malam, Rabu, 2 September 1964. Pesawat Herkules Angkatan Udara RI telah menerjunkan 48 anggota Pasukan Gerak Tjepat (PGT) dengan jarak interval yang saling berjauhan. Dari jumlah itu, 24 orang penerjun dari suku Dayak, satu di antaranya GI Andeng.

Angin malam menghembus amat kencang, membuat anggota PGT yang diterjunkan, harus mendarat tercerai-berai dan tak semua tepat sasaran. Banyak yang mendarat tersangkut di pepohonan lebat di hutan lindung. Bahkan ada anggota mendarat tepat di tengah Kampung Redung.Dan yang sedang sial, malah terjatuh di asrama polisi Malaya di desa Tenang itu.

Tak pelak, desa Tenang pun tiba-tiba tak lagi tenang. Karena beberapa polisi Diraja Malaysia yang sedang piket jaga pun langsung tersentak kaget, karena ada penerjun payung yang jatuh di halaman asrama. Maka tak ayal lagi, anggota PGT itu pun menjadi bulan-bulanan kemarahan mereka.

“Yang mendarat di asrama polisi Malaya itu komandan kami Pak Sutikno, Letnan Muda Udara 1 Sutikno (Peltu),” kenang GI Andeng.

Usia Andeng, baru menginjak 21 tahun saat itu.

“Kita pakai pakaian preman. Penyamaran sebagai nelayan, pencari ikan. Seperti penduduk biasa. Nama samaran saya Netly. Teman angkatan saya, banyak yang umurnya masih belasan, 18-19 tahun. Mengaku sebagai Anak-anak sekolah,” Andeng berkisah.

Pasukan Gerak Tjepat dari Borneo – Dihadang Tentara Gurkha

Dinihari itu, parasut Andeng belia tersangkut di pepohonan di hutan. Namun Andeng tak mengalami kesulitan untuk menebas dahan dan ranting pohon, dengan pisau komando yang terselip di pinggangnya.

“Kami lahir dan besar di hutan dan alam. Hutan dan alam memberikan kami kehidupan. Kami dibesarkan dengan budaya Dayak yang hidupnya tergantung pada hutan. Orang tua kami mengajarkan hutan adalah Bapak kami, tanah adalah Ibu kami, dan air  adalah darah kami,” ujar Andeng.

Dari atas pohon tinggi di mana parasutnya tersangkut itu, Andeng melihat hutan yang menyambutnya malam itu tak ada bedanya dengan hutan di tanah tumpah darahnya, Kalimantan.

“Saya berusaha tenang. Sayup-sayup saya mendengar suara orang berteriak minta tolong. Tak lama menyusul suara sempritan, ada orang meniup semprit, seakan memberi kode. Saya sempat berpikir apakah itu musuh?” ujar Andeng.

Tanpa kesulitan, ia kemudian turun dari pohon tanpa kesulitan. Ia kemudian berlari, mengejar arah suara minta tolong tadi. Saat itu ia juga mendengar suara orang seperti menangis. Kok seperti suara perempuan? Kan PGT prajurit lelaki semua ? Andeng tak sempat berpikir macam-macam. Yang ia tahu berlari dan berlari menuju arah suara teriakan tadi. Bak kijang jantan, Andeng yang bertubuh kecil tegap ini berlari, melesat kencang.

Benar saja, hanya hitungan menit ia sudah bertemu rekannya sesama anggota PGT yang rupanya masih tersangkut dahan dan ranting pohon yang membelit parasut dan tubuhnya.

“Kebanyakan orang panik ketika mendarat, tersangkut di pohon. Saya termasuk beruntung, malam habis terjun itu, beberapa jam kemudian, kita sudah bisa berkumpul 3 orang. Teman-teman lain, ada yang berbula-bulan sendiri tersesat di hutan, tak ketemu orang,”cerita Andeng.

Hingga subuh menjelang, Andeng sudah bertemu 5 orang rekan PGT. Termasuk Muharam, Komandan kelompoknya.

“Hari kedua, tambah orang lagi. Tepat seminggu, tanggal 9 September itu, kita sudah berkumpul 18 orang,” kata Andeng lagi.

Berarti masih ada 30 anggota PGT yang tercerai berai di hutan lindung desa Tenang saat itu.

“Rabu pagi itu, setelah seminggu berkelana di hutan.Tgl 9 September kami masang tenda. Menjelang magrib, saya ajak semua anggota kumpul. Saya tekankan, besok pagi saya nggak mau tau, jam 8 sudah rapi semua, tak ada yang masih tidur. Besoknya jam 8 tenda ada yang belum dilepas, saya kesal juga karena tak sesuai rencana. Pagi itu,kebetulan saya salah satu yang bisa mengkoordinir, karena yang lain fisiknya banyak yang sudah lemah. Saya ambil inisiatif, tolong keluarkan makanan yang ada, kumpul, saya bagi rata, karena ada yang punya ada yang tidak,” kata Andeng.

Ransum yang dibekali dari Markas Komando AURI berupa makanan model sagu, kalau mau makan dikasih air. Logistiknya untuk 4 hari. Diperhitungkan sudah akan berkumpul di check poin Gunung Pulai, Kec. Labis.

“Diperhitungkan dalam 3 hari dua malam,semua kumpul. Kenyataannya 2 minggu kami berjalan, belum berkumpul juga, masih jauh.”

Andeng bersama ketua kelompoknya, Muharam, dibantu seorang rekan PGT, mengkoordinir pasukan PGT yang telah terkumpul 18 orang.

“Kita ngikutin kompas ke gunung Pulai. Satu orang di depan, Pak Muharam, 2 orang di belakang, ngawasin jangan sampai ketinggalan. Jadi kalau kita bertiga beri perintah jalan, ya jalan, istirahat ya istirahat. Banyak yang tak ada tenaga, gak sampai 1 jam jalan, berhenti jalan.” <<<

To be continued …

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *