Beribadah dan Beramah-Tamah di Gerejanya Orang Kalimantan di Jakarta

Minggu, 3  November 2019, Dayakdreams.com diundang seorang sahabat untuk datang dalam Kebaktian di Gereja Kalimantan Evangelis (GKE) di Jakarta.

“Datanglah Kak, Kebaktian tiap awal bulan, umat ke gereja dengan berpakaian adat Dayak. Seru lho,”ujar Hambit Maseh, SH,MH, seorang wanita Dayak yang sukses dalam kariernya sebagai Notaris di Jakarta.

The air was filled with songs of praise and our hearts were filled with the Holy Spirit.

Maka, dari markas Dayakdreams di Bambu Apus, Jakarta Timur, Minggu pagi itu kami luncur ke GKE di gedung Sekolah Tinggi filsafat Teologi, lantai 5, Jalan Proklamasi No 27 Pengangsaan, Jakarta Pusat. Umat diterima dengan ramah olehpenerima tamu bernama Pnt (Penatua) Thimoti Uriel dan Dikon(Dkn) Lely H Tundang. Keduanya mengenakan aksesoris Dayak di kepala. Umat dipersilahkan mengambil teh atau kopi yang disediakan para petugas Pelayanan Kebaktian Minggu. Juga disediakan beberapa penganan seperti kue Donat dan Bolu berbahan Pisang.  Sambil menyeruput kopi dan teh pagi, jemaat mendengarkan pengumuman yang  disampaikan petugas di altar yang dilengkapi layar lebar  yang menghadap proyektor Infocus.

Di sayap kiri altar, duduk pemain Sape’ khas Dayak, juga gitaris dan Song Leader. Tak tampak alat musik organ. Namun  ada seorang musisi laptop yang lincah menekan komputer musiknya. Gereja yang sarat dengan properti digital.

“Kebaktian Minggu lalu, 27/10 lebih ramai dari hari ini. Tadi pak Wamen Alue Dohong telepon tidak bisa hadir di GKE ini karena sedang bertugas bersama Mentri di luar kota,”ujar Hambit Maseh pada Dayakdreams.com.

DR Alue Dohong, putra Dayak yang dipilih Presiden Joko Widodo sebagai Wakil Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup, salah satu sosok Dayak ternama yang menjadi jemaat di GKE ini. Selain Alue Dohong, ada pula tokoh-tokoh Kalimantan Tengah yang bertugas di Jakarta, seperti anggota DPR RI Willy Midel Joseph dan anggota DPD RI, mantan Guberur Kalimantan Tengah, Agustin Teras Narang. Jumlah jemaat yang hadir Minggu lalu itu, 154 orang dewasa dan 12 anak-anak sekolah Minggu, sekaligus syukuran pak Alue Dohong sebagai Wamen.

Ibadah Minggu kemudian dipimpin Pendeta (Pdt) Ariyono Weringkukly, MDiv. Usai doa Konsistorium dan berita jemaat, berlanjut dengan menyanyikan lagu  berbahasa Dayak Nyaju berjudul  Tuhan Hattalangku Ije Inaraku (Tuhan Allahku yang Kami Muliakan).

Sementara itu para pelayan memasuki ruang ibadah dan dilakukan penyerahan Alkitab kepada Pemimpin Kebaktian. Kemudian masuk jemaat anak-anak seraya menyanyikan lagu  Jalan Serta Yesus. Anak-anak ini kemudian melanjutkan ibadahnya di ruang terpisah di lantai 4, dimana mereka menjalankan Sekolah Hari Minggu. Dkn Etsy Krisanty kemudian menyampaikan doa spontan untuk masa depan anak-anak Tuhan ini, agar mereka tetap belajar tentang kebenaran Injil Tuhan.

Dalam pemberitaan firman Tuhan dan doa Safaat, Pendeta Ariyono mengangkat tema Keluarga sebagai Ecclesia Domestica (gereja kecil).

“Banyak keluarga Kristen tidak kuat. Ikan itu busuk dari kepalanya. Karena di kepala ada otak sebagai thinktank, mulut untuk berkomunikasi. Seperti keluarga kecil, jika terjadi sesuatu pada anak-anak, maka kepala keluarga yang diperiksa. Kepala rumah tangga yang membuat sistem, membuat aturan yang dibantu pasangan hidupnya, Ibu untuk mengelola rumah tangga  Namun kepala rumah tangga tidak sempurna, dia perlu seorang penolong, istrinya, seorang Ibu penolong.

Jika orang tua tak memberi pengajaran pada anak-anaknya, maka mereka akan diajarkan dunia media sosial Seorang kepala keluarga, bagaimana  pun posisi pekerjaan dan pergaulannya, tidak mengganggu ketertarikannya pada kehidupan rohani, tidak membuatnya tamak. Ketika Tuhan menganugerahkan pekerjaan yang baik, ia tetap ingin tahu tentang Yesus, seperti Zakheus. Keputusan Zakheus membuat keluarganya diselamatkan.Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia,” demikian uraian sang Pendeta dalam kotbahnya yang cukup panjang.

Persembahan Pujian dibawakan oleh Rendy Agusta Saputra yang memetik gitar dan bernyanyi lagu berjudul Ku Percaya Janji-Mu. Sementara persembahan syukur di dalam amplop hitam, jemaat menyanyi sebuah tembang berbahasa Dayak Maanyan berjudul Uras Madia Pangamian-Nu. Kebaktian ditutup dengan berkat.

Usai ibadah, para jemaat saling bersalaman. Kemudian menikmati hidangan makan siang yang telah disiapkan panitia gereja. Ada Sup kembang kol, Ayam Goreng dan ikan asin Jambal khas Kalimantan. Sebuah Kebaktian Minggu yang mengesankan.

Now that our ears and heart are filled, let us fill our stomachs with Dayak cuisine.

GKE adalah sebuah kelompok gereja Kristen Protestan di Indonesia yang didirikan pada 4 April 1935. Awalnya bernama Gereja Dayak Evangelis (GDE) yang melakukan pelayanan iman kepada suku-suku rumpun Dayak di pulau Kalimantan, kemudian menjadi GKE (November 1950) yang terbuka bagi anggota non-Dayak. GKE berkantor pusat di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Untuk di luar Kalimantan, GKE memiliki jemaat di DKI Jakarta, di jalan Proklamasi ini. Tempat para warga Kristen Kalimantan yang merantau di Jabodetabek( Jakarta, Depok, Bogor, Tangerang, Bekasi), berkumpul menjalankan Ibadah, sekaligus menjadi ajang ramah-tamah usai kebaktian, setiap Minggu.  <<

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *