Dimana Darah Militan Insan Dayak Kini?

Sebagian opini menyebut suku bangsa Dayak kurang militan, minder terhadap orang dari luar sukunya, apalagi berbeda tingkat ekonomi dan kedudukan, dan cenderung tertutup atau introvert. Padahal suku bangsa Dayak diwariskan darah militan oleh leluhurnya, sebagai suku pejuang dan penakluk, yang dimasa lalu telah dicatat sejarah, terkenal dengan budaya memenggal kepala atau NGAYAU.

Saat sekarang, militansi tersebut hanya muncul jika masyarakat Suku Dayak sudah diluap emosi, marah dan dalam situasi darurat atau berperang. Saat Mangkok Merah sudah berjalan. Dimana warisan darah militan itu kini ?

Ada yang berkata, bangsa Dayak kurang BERSATU dan susah memperSATUkan diri, karena berbeda-beda Sub Suku, (terdapat 405 Sub Suku Dayak.) Ada juga yang berkata, Dayak semakin sulit untuk BERSATU, jika sudah berbeda keyakinan.

Suku Dayak merupakan suku yang majemuk, sebagian masyarakatnya masih ada yang mempercayai keyakinan dari nenek moyang yakni Kaharingan, banyak pula yang beragama Katholik, Protestan, dan Islam.

Ada yang beranggapan, jika sudah menjadi MUSLIM, kadang malu untuk mengaku sebagai Suku DAYAK. Khusus di Kalimantan Barat terdapat istilah Senginan, Kirekng, sebutan untuk masyarakat Dayak yang memeluk agama Islam.

Padahal tanpa disadari oleh masyarakat Suku Dayak sendiri, istilah tersebut sengaja dilakukan pihak luar Dayak sebagai upaya dari pengaburan asal usul, serta upaya secara perlahan-lahan untuk melemahkan populasi dan eksistensi Bangsa Dayak.

Apalagi pada beberapa situasi tertentu, ada upaya untuk mencoba menekan sendi kehidupan dan adat istiadat Bangsa Dayak. Seperti melarang penyelenggaraan acara Budaya Dayak,dengan alasan sedang ada peringatan perayaan agama tertentu. Atau melarang peternakan hewan babi, dan pembatasan keberadaan Rumah Potong Hewan Babi di perkotaan dan bahkan di kabupaten di Kalimantan, serta pembatasan memelihara hewan babi di perkampungan Dayak, dan sebagainya.

 Darah Dayak Adalah Takdir, Agama Adalah Pilihan

Berbagai curahan hati  muncul dari alam bawah sadar insan yang gelisah, terhadap nasib dan situasi serta kondisi yang sedang dihadapi Suku Dayak saat ini. Rasa gelisah yang tumbuh dari rasa senasib sepenanggungan, merupakan modal awal dari sebuah ikatan kuat dari Persatuan. Dibentuklah WAG, Whatsaap Grup yang awalnya hanya antar teman sekampung di perbatasan kabupaten Sanggau, kemudian merangkul  para insan Dayak di seluruh provinsi di Kalimantan, bahkan di Sabah dan Serawak.

WAG inipun menjadi ajang diskusi yang membangun dan saling memberi pencerahan atau motivasi kepada sesama anggota. Pada akhirnya muncul kesadaran untuk BERSATU, BERORGANISASI dan BERSTRATEGI dalam perjuangan politik besar persatuan Bangsa Dayak. Maka disepakati membentuk Organisasi Masyarakat Dayak yang dinamakan PERSAUDARAAN DAYAK SERUMPUN (PDS), beranggotakan Suku Dayak dari 3 negara yakni Indonesia, Malaysia dan Brunei.

Dayak yang terdiri dari berbagai Sub Suku, diharapkan bangkit kesadarannya bahwa sesama Bangsa Dayak merupakan saudara satu darah dan serumpun. Hal tersebutlah yang menjadi inspirasi dari berdirinya organisasi masyarakat Persaudaraan Dayak Serumpun di daerah perbatasan Kabupaten Sanggau ini.

Perjuangan politik Persaudaraan Dayak Serumpun, disadari hanyalah sebuah langkah kecil dari upaya masyarakat Dayak di perbatasan, yang memiliki kesadaran bahwa Dayak harus bangkit jika ingin mengejar ketertinggalan dalam berbangsa dan bernegara untuk tingkat nasional, maupun di tingkat daerah tembawangnya sendiri. Untuk bisa bersatu secara militan dan bermartabat, maka Persaudaraan Dayak Serumpun dengan gerakan politik berusaha menembus perbedaan antar Sub Suku dan perbedaan agama atau keyakinan. Dengan semangat dan slogan Darah Dayak adalah Takdir, Agama adalah Pilihan.

Pada Usahamu lah, Terletak Nasibmu

Beberapa anggota memulai pergerakannya dari bidang Budaya, sementara ada pula yang memulai dari sisi bidang Ekonomi. Bahkan ada beberapa anggota yang menjadikan media sosial WAG PDS sebagai sarana berkomunikasi antar anggota, hanya sebatas tempat untuk menumpahkan curahan isi hatinya. Semua pergerakan yang dilakukan anggota PDS tersebut adalah bagus dan baik bagi organisasi, namun hal tersebut belumlah cukup.

Karena perjuangan PDS adalah bagaimana cara mendorong peran insan-insan Dayak untuk bisa masuk dan berperan penting, sehingga bisa ikut menguasai dunia politik dengan cara ikut terlibat dan berperan di semua partai politik. Dari IPOLEKSOSBUDHANKAM, gerakan Politik lah yang menjadi puncak dalam memainkan peran utama dan sangat menentukan dalam kehidupan di Indonesia.

Dengan POLITIK yang stabil akan diikuti dengan pertumbuhan EKONOMI dan kesejahteraan serta ketertiban dalam kehidupan SOSIAL bermasyarakat, baru kemudian diikuti BUDAYA sebagai penguat identitas bangsa. Jika Suku Dayak mampu menguasai dunia politik, maka akan diikuti dengan penguasaan sector ekonomi.

Maka PDS memandang Bangsa Dayak harus bangkit untuk bisa memulai, dan ikut berperan serta dalam menentukan arah kebijakan negara yang berpihak pada kepentingan Bangsa Dayak sendiri. Untuk mencapai cita-cita di atas, kata kuncinya adalah BERSATU. Bersatu modalnya hanya kemauan, yang bisa tumbuh dari saling berkomunikasi curahan hati di WAG.

Itulah visi dan misi Persaudaraan Dayak Serumpun, yang berpikir dan bercita-cita besar (Think BIG), memulai sesuatu dari hal-hal yang kecil dan sederhana (Do SMALL), memulai sesuatu dari diri sendiri dan sekarang (Do NOW). Dengan demikian, insan Dayak akan lebih mampu berbicara di tingkat nasional, baik di bidang politik maupun ekonomi di bumi Indonesia ini.

Jika bukan kita, siapa lagi yang akan melakukan. Jika bukan sekarang, kapan lagi akan dilakukan. Untuk itu kita mulai berjuang dari sekarang, demi masa depan generasi anak cucu Bangsa Dayak yang akan datang.

Tagline Partai Dayak dimasa lalu yang sempat berjaya dan masih relevan hingga saat ini, “DI USAHAMU LAH TERLETAK NASIBMU”. Hal itu mengingatkan kita bahwa,”Hanya tergantung di tangan insan-insan Dayak yang mau berjuang, yang akan bisa mengubah nasib dan masa depan dari Bangsa Dayak itu sendiri”. <<

Salam Dayak Satu Darah.
—Christo Lomon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *